SEMARANG, Joglo Jateng – Fakta baru terungkap dalam sidang dugaan korupsi yang melibatkan eks Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu atau Mbak Ita, dan suaminya, Alwin Basri. Sidang yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Rabu (2/7/2025), menghadirkan enam orang saksi dari ASN Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), termasuk Kepala Subbidang Penetapan Pajak Daerah, Agung Wido.
Dalam keterangannya, Agung membeberkan praktik “iuran kebersamaan” yang dikumpulkan rutin dari para pegawai penerima Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) berdasarkan jabatan. Dana tersebut disebut tidak memiliki dasar hukum yang jelas, namun jumlahnya fantastis.
“Iuran kebersamaan tidak ada (aturan hukum, Red.), diterima setiap 3 bulan sekali. Rata-rata kalau tidak dipotong pajak (yang diterima, Red.) Rp100 juta. Yang dikeluarkan biasanya di atas Rp10 juta,” ujar Agung menjawab pertanyaan Ketua Majelis Hakim, Gatot Sarwadi.
Agung mengungkap bahwa iuran tersebut ditetapkan dalam rapat pimpinan. Berdasarkan data yang dibacakan hakim dan dibenarkan Agung, jumlah iuran terus meningkat dari triwulan ke triwulan. Triwulan IV 2022 terkumpul Rp966 juta, Triwulan I 2023 naik jadi Rp1,155 miliar, Triwulan II Rp 1,126 miliar, Triwulan III Rp 1,5 miliar, dan Triwulan IV Rp 1,48 miliar.
“(Kenapa naik?) Saya tidak diinfo, cuma diminta menghitung. (Ada tambahan nominal iuran?) Iya, semua pegawai naik Rp 3,5 juta iurannya. (Kenapa naik?) Tidak tahu, hanya diperintahkan,” ungkap Agung.
Jumlah tersebut terus melonjak hingga awal 2024. Triwulan I tercatat mencapai Rp 1,2 miliar dan Triwulan II sebesar Rp 1,4 miliar. Dana yang dikumpulkan, menurut Agung, digunakan untuk kebutuhan pegawai non-TPP seperti cleaning service, office boy, satpam hingga pengeluaran sosial.
Namun ketika hakim bertanya apakah seluruh dana miliaran tersebut habis untuk keperluan itu, Agung menjawab tidak tahu. Ia juga mengaku tidak mengetahui apakah dana tersebut pernah diserahkan kepada Mbak Ita maupun Alwin.
“Kurang tahu, yang mengelola Bu Syarifah (Kabid di Bapenda, Red.). Penggunaannya dilaporkan. (Pernah dengar untuk Ita?) Tidak pernah dengar. (Untuk Alwin?) Tidak pernah,” jelasnya.










