KUDUS, Joglo Jateng – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini, menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan. Salah satu sekolah yakni SMP Muhammadiyah 1 Kudus turut menyampaikan pandangan mereka, terhadap pemanfaatan teknologi ini. Khususnya di lingkungan sekolah.
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Kudus, Ali Zamroni menyebutkan, AI memiliki dua sisi yang perlu dicermati dengan bijak. Di mana itu bukan alat yang membuat seseorang menjadi pintar secara instan. Sifatnya hanya membantu dan memudahkan pekerjaan.
“Tapi di sisi lain, bisa menjadi pedang bermata dua. Jika disalahgunakan, justru membuat mereka malas belajar. Contohnya, ketika siswa mendapatkan tugas membuat puisi, dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Ada kecenderungan untuk menggunakan ChatGPT,” ujarnya.
Namun, ia juga menegaskan, AI bukan sesuatu yang bisa dihindari. Maka dari itu, perlu ada pendekatan yang lebih edukatif. Dalam mengenalkan teknologi ini kepada siswa. Yang terpenting dalam pendidikan adalah prosesnya, bukan hanya hasil.
Senada dengan itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Mulyadi menambahkan, AI tidak bisa menggantikan peran guru dalam proses belajar. Mereka membuat tugas dengan bantuan AI, belum tentu memahami proses berpikir di baliknya. Itu yang berbahaya.
“Maka, pentingnya penguatan pembelajaran berbasis computational thinking, dalam kurikulum saat ini. Misalnya dalam pelajaran coding, anak diajarkan cara berpikir logis dan menyelesaikan masalah. Kemampuan itu tidak bisa dibentuk, hanya dengan mengandalkan AI,” ungkapnya.
Menurutnya, dalam kehidupan nyata. Banyak permasalahan yang solusinya tidak bisa ditemukan hanya dari hasil keluaran mesin. Karakter, nilai, dan kepribadian. Adalah hal-hal yang harus tumbuh dari proses pembelajaran nyata.
“Kami ingin anak-anak tidak sekadar tahu jawabannya. Melainkan memahami. Bagaimana mereka sampai pada jawaban itu. Kami terus mengarahkan siswa, untuk memanfaatkan teknologi secara bijak. Dengan tetap menghargai proses belajar,” tutupnya. (cr9/fat)










