Akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa ini menjadi momen menarik, mengingat sejarah salah satu Putri Gagak Handoko yaitu Raden Rara Sindip, menikah dengan salah satu saudagar Tionghoa kala itu, Tan Ting Gwat. Di kemudian hari, anak turun Tan Ting Gwat dikenal sebagai juragan otomotif yang memiliki Nasmoco, PO Sumber Alam dan lainnya.
“Atraksi barongsai dan liong samsi ini sebagai simbol perpaduan budaya Jawa dan Tionghoa. Sesuai sejarah, Putri Pangeran Gagak Handoko menikah Raden Rara Sindip menikah dengan saudagar asal Cina, Tan Ting Gwat. Trah mereka juga ikut garebeg dengan mengenakan baju adat Tionghoa,” kata Kades Loano, Sutanto.
Menurut Tanto, Gagak Handoko adalah Adipati ke-9 Lowano. Kadipaten (kabupaten) ini menjadi salah satu cikal bakal berdirinya Kabupaten Purworejo.
“Tujuan merti desa ini untuk mengingat, Lowano salah satu kadipaten tertua. Jika tidak ada yang peduli, masyarakat akan lupa. Dikemas dengan atraksi budaya, masyarakat lebih tertarik. Merti desa ini wujud rasa syukur atas kesehatan rejeki, bisa merawat bumi dan leluhur yang memberikan peninggalan bumi ini,” imbuhnya.
Totalnya, ada 13 jodang, 24 ingkung, satu kambing guling, satu gunungan hasil bumi. Kemmudian, semua itu diperebutkan oleh ratusan warga yang memadati halaman Masjid Sunan Geseng Lowano. (mrn/sam)










