Intensitas Hujan Tinggi, Pemalang Catat 73 Kasus DBD Hingga Juli 2025

Kepala Dinkes Pemalang, Yulies Nuraya. (UFAN FAUDHIL/JOGLO JATENG)

PEMALANG, Joglo Jateng – Penemuan kasus Demam Berdarah (DBD) yang disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti per Juli 2025 di Kabupaten Pemalang mencapai 73 kasus dengan rata-rata 10 kasus baru per bulan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pemalang mencatatkan, Puskesmas Mulyoharjo sebagai fasilitas kesehatan dengan catatan kasus terbanyak di tahun ini, total ada 14 kasus yaitu 8 kasus pada pasien perempuan dan 6 kasus pasien laki-laki.

Kepala Dinkes Kabupaten Pemalang, dr. Yulies Nuraya, mengungkapkan, penambahan kasus perbulan rata-rata 10 kasus ini karena panjangnya intensitas hujan pada 2025.

“Jika biasanya pada Mei hingga Agustus ini musim kemarau, tetapi curah hujan di seluruh Indonesia termasuk Pemalang masih tinggi. Di mana genangan air sebagai tempat reproduksi nyamuk semakin banyak, sehingga kasus DBD ini masih terpantau tinggi,” ungkapnya.

Dari catatan dinas, hingga Juli 2025 kemarin total ada 73 kasus DBD di seluruh Kabupaten Pemalang dengan kasus terbanyak tertangani oleh Puskesmas Mulyoharjo ada 14 kasus positif DBD. Puskesmas tersebut melayani satu desa dan 4 kelurahan sekaligus yaitu Desa Wanasari, Kelurahan Pelutan, Mulyoharjo, Sugihwaras dan Widuri.

“Kasus ini cukup banyak, melihat musimnya kemarau basah jadi perkembangbiakan nyamuk lebih cepat dengan banyaknya tempat reproduksi di lingkungan warga yaitu genangan air,” ucapnya.

Untuk wilayah dengan kasus terbanyak kedua berada di Puskesmas Banjardawa dengan total 7 kasus positif DBD yang menjangkit 2 orang pasien laki-laki dan 5 orang pasien perempuan. Jika dilihat secara gender di Pemalang total kasus terbanyak menyerang laki-laki total ada 37 kasus DBD, untuk perempuan berada di angka 36 kasus angka tersebut dihitung hingga Juli 2025 atau triwulan ketiga di tahun ini.

dr Yulies berharap angka tersebut tidak terus naik sejalan dengan bertambahnya kesadaran masyarakat untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka. Terutama tempat-tempat menggenangnya air hujan dan sudut gelap lembab yang menjadi habitat nyamuk dapat dibersihkan, sebagai pencegahan. Dengan cara 3M plus yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang bekas, ditambah tindakan plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, atau hal lainnya yang bisa meminimalisir nyamuk di lingkungan rumah.

“Mohon masyarakat bisa bergotong-royong sadar untuk membersihkan rumah dan membiasakan 3M Plus. Pelaksanaan fogging hanya memberantas nyamuk sementara dan jentik-jentik di genangan pasti masih ada,” imbaunya. (fan/iza)