Pertumbuhan ‎‎Ekonomi di Kudus Belum Signifikan, Pajak Jadi Andalan

‎‎PANTAU: Kepala KPP Pratama Kudus, Imam Teguh Suyudi saat memantau wajib pajak yang datang ke kantor, belum lama ini. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

‎‎KUDUS, Joglo Jateng – Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kudus tercatat belum menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan ekonomi Kudus masih berada pada level moderat.

Namun, kondisi ini tetap dinilai positif. Karena menunjukkan tren perbaikan seiring meningkatnya aktivitas usaha dan pelaku industri pasca-pandemi.

‎‎Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kudus, Imam Teguh Suyudi menilai, pertumbuhan ekonomi yang belum terlalu tinggi justru menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi. Yakni antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mendorong penerimaan negara melalui pajak.

‎‎”Secara umum, ekonomi Kudus tumbuh, meski belum tinggi. Tapi arah perbaikannya jelas. Kami melihat geliat ekonomi mulai terasa di berbagai sektor, terutama setelah kebijakan cukai tidak mengalami kenaikan tahun ini,” ujarnya.

‎‎Menurutnya, stabilitas kebijakan fiskal yang diambil pemerintah. Terutama dalam pengelolaan cukai, berdampak positif bagi industri di Kudus yang dikenal sebagai salah satu pusat industri rokok dan manufaktur di Jawa Tengah.

‎‎”Kebijakan tidak naiknya cukai memberikan ruang napas bagi sektor industri untuk beradaptasi, menjaga produksi, dan mempertahankan tenaga kerja. Dampaknya tentu akan dirasakan pada peningkatan ekonomi daerah,” jelasnya.

‎‎Namun demikian, Imam menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak bisa dilepaskan dari peran masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan. Ia menekankan pentingnya kesadaran pajak sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

‎‎”Kita perlu melihat pajak bukan hanya sebagai beban, tapi sebagai kontribusi bersama untuk membangun negeri. Wajib pajak dan petugas pajak itu sejatinya satu tim, bukan dua pihak yang berseberangan,” tegasnya.