Untuk itu, ia mendorong kementerian-kementerian terkait di bawah koordinatornya untuk mendesain ulang sesuai kebutuhan, sehingga memadai untuk sekolah inklusi. Cak Imin mengakui, Sekolah Rakyat yang ada saat ini pun belum inklusif.
“Saya berkunjung ke Rumah Inklusif Kebumen, tempat di mana berkumpulnya para orang tua istimewa yang dipercaya Tuhan memiliki anak-anak istimewa. Ini menjadi contoh, bergabunglah orang tua istimewa dalam komunitas untuk saling menguatkan dan menyukseskan. Pemerintah juga harus bergabung di dalamnya,” tegasnya.
Usai acara dialog, Cak Imin juga menyempatkan diri untuk membubuhkan cap batik motif Pegon yang telah dipatenkan HAKI-nya.
Sementara itu, Ketua Rumah Inklusif, Muinatul Khoiriyah menjelaskan, Pegon secara rupa adalah huruf Arab gundul, jaman dulu artinya pego. “Motif Pegon adalah bahasa jiwa, aksra dan angka yang bercerita tentang nestapa anak-anak kami yang jauh dari akses pendidikan dan pekerjaan. Bahkan ketika mendaftar sekolah pun ditolak, ada yang dibully juga,” tuturnya.
Iin juga memiliki anak-anak difabel. Anggota Rumah Inklusif 100 orang lebih, kebanyakan adalah difabel yang berat. Ketika ditanya proposal apa yang diajukan ke Menko PM, Iin mengatakan, mereka membutuhkan tempat yang lebih representatif untuk berkumpul dan berkegiatan.
Dikarenakan, lanjutnya, joglo yang ada saat ini sudah mulai bocor dan perlu perbaikan. Ia berharap janji Cak Imin segera terealisasi, agar Rumah Inklusif memiliki tempat berkegiatan yang baik. (mrn/sam)










