Ia menekankan pentingnya strategi promosi dan kreativitas agar pelaku ekonomi kreatif tetap bertahan di tengah menurunnya daya beli masyarakat.
“Marketing harus kuat. Pemerintah juga sudah bantu lewat pelatihan, permodalan, dan pendampingan. Dinas Koperasi dan UMKM ini sudah luar biasa memfasilitasi dari hulu ke hilir,” tambahnya.
Dyah mencontohkan geliat bisnis kopi yang memanfaatkan kekhasan lokal seperti Blok GM (Gajahmada) yang ramai setiap Minggu pagi oleh komunitas mobil klasik, maupun Kopi Pekojan yang tumbuh di kawasan Kota Lama dan menjadi tempat nongkrong anak muda.
“Anak-anak muda di sana mulai dari modal kecil, tapi pengunjungnya ramai. Kalau di Pekojan dari sore mereka sudah buka sampai malam makin padat,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat memberi ruang dan perlindungan lebih besar bagi pelaku usaha seperti itu agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Harusnya difasilitasi dan dibuatkan regulasi yang berpihak, supaya tidak cuma ramai semusim saja. Kalau bisa berkelanjutan, Semarang bakal makin hidup,” ujarnya. (luk/adf)










