Peserta yang terlibat berasal dari berbagai kategori disabilitas, seperti tunanetra, grahita, autisme, dan daksa. Rangkaian kegiatan dirancang untuk mengasah kemampuan personal sekaligus membangun kerja sama.
“Seluruhnya terlibat dalam kegiatan yang mengasah kemandirian, kreativitas, dan kebersamaan,” kata Sri.
Berbagai permainan tradisional menjadi agenda utama, disusul aktivitas literasi, pentas budaya, serta beberapa permainan tim yang menekankan teamwork. Meski di dalamnya terdapat unsur kompetisi, Sri menegaskan bahwa fokus kegiatan bukan pada pemenang, melainkan partisipasi aktif seluruh peserta.
“Yang kami tonjolkan adalah proses, bukan menang atau kalah,” tegasnya.
Sri menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi ruang penguatan persaudaraan antar peserta dari berbagai SLB di Kota Semarang. Selain itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pembina dan orang tua untuk saling mendukung dan memahami perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus.
“Output-nya pertemanan, kemandirian, dan penguatan. Kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak disabilitas mampu berekspresi dan berapresiasi. Ini juga memberikan pemahaman bagi masyarakat dan orang tua bahwa kemampuan mereka sangat luas,” jelasnya. (luk/adf)










