Menjadi Teladan di Garis Depan

Bawa Pendekatan Kekeluargaan dan Transparansi

Kepala SD 1 Barongan, Kudus, Nur Hadi. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Bagi Nur Hadi, memimpin sekolah bukan sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi memberi teladan dalam setiap langkah. Sebagai kepala sekolah, ia juga turut membawa pendekatan kekeluargaan dan transparansi.

FILOSOFI Ki Hadjar Dewantara, Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani, menjadi kompas yang ia pegang teguh sejak pertama dipercaya memimpin. Baginya, sebelum meminta guru dan siswa disiplin, tertib, dan santun, seorang pemimpin harus lebih dulu menunjukkan contoh nyata dalam kebersihan, kerapian, hingga etika dalam berinteraksi. Dari prinsip sederhana itulah ia membangun atmosfer SD 1 Barongan sebagai ruang belajar yang hangat dan penuh kebersamaan.

Nur Hadi bukanlah sosok baru di dunia pendidikan dasar. Perjalanan pendidikannya dimulai pada 2009 ketika pertama kali mengabdi di SD 2 Bulung Kulon. Di sekolah itulah, sebagai guru muda sekaligus CPNS, ia ditempa oleh pengalaman dan pembelajaran yang memperkuat pondasi profesionalnya. “Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan di sana,” kenangnya.

Karirnya kemudian berlanjut di SD 1 Bulung Kulon pada 2014–2019. Di tempat ini ia bukan hanya mengajar, tetapi juga dipercaya mengelola dana BOS dan membenahi sistem pelaporan. Ketelitiannya dalam administrasi membuatnya dikenal sebagai sosok rapi dan cermat, modal besar yang kemudian membuka jalan menuju jabatan kepala sekolah.

Pada 2022, Nur Hadi diangkat menjadi Kepala SD 1 Sadang, sebelum akhirnya pada 2025 dimutasi ke SD 1 Barongan. Perpindahan itu ia sambut dengan semangat baru: membangun lingkungan sekolah yang terasa seperti rumah bagi seluruh warganya.

“Saya ingin menjadikan sekolah ini sebagai rumah kedua bagi semua yang ada di dalamnya. Jika sudah merasa rumah, maka yang ada di sini adalah saudara. Sesama saudara harus saling menutup kekurangan dengan kelebihan, bukan saling memojokkan,” tuturnya.

Pendekatan kekeluargaan itu terasa dalam cara ia memimpin. Ia membangun hubungan yang harmonis antara guru senior dan guru muda, menekankan pentingnya memahami karakter satu sama lain agar komunikasi berjalan efektif.

“Di sini semua sangat welcome. Kita mengenal karakter masing-masing dulu agar bisa masuk ke kehidupannya,” jelasnya.