PEMALANG, Joglo Jateng – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pemalang mencatat tren positif pada luasan tanam padi sepanjang tahun 2025. Meski menghadapi tantangan penyusutan lahan, diperkirakan total luas tanam (LTT) padi di wilayah ini akan menembus angka 90 ribu hektare hingga akhir Desember nanti.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertan Pemalang, Iing Winarso menjelaskan, hingga akhir November 2025, realisasi luas tanam telah mencapai 80 ribu hektare.
“Kalau target dari Kementan RI memang belum tercapai karena angkanya terlalu tinggi untuk kondisi saat ini. Namun, capaian 90 ribu hektare ini sudah menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya,” ujar Iing mewakili Kepala Dispertan Pemalang, Prayitno.
Kendala Lahan Sawah Menyusut
Iing mengungkapkan, alasan utama tidak tercapainya target nasional adalah luas lahan baku sawah di Pemalang yang terus berkurang. Berdasarkan data Dispertan, saat ini lahan sawah produktif yang tersisa hanya berkisar 34 ribu hektare.
Kondisi ini diperberat dengan indeks pertanaman yang belum maksimal. Sebagian besar area sawah di Pemalang hanya mampu ditanami satu hingga dua kali dalam setahun.
“Rata-rata petani hanya bisa tanam satu sampai dua kali per tahun. Walaupun di wilayah Pantura ada yang bisa tiga sampai empat kali, tapi luasannya tidak banyak,” terangnya.
Andalkan Benih Genjah M70D
Sebagai strategi percepatan swasembada pangan di tengah keterbatasan lahan, Pemkab Pemalang mengalokasikan dana APBD untuk bantuan benih unggul. Sebanyak 200 hektare lahan pertanian mendapatkan bantuan benih padi varietas M70D atau MHR 70.
Varietas ini dipilih karena memiliki umur panen yang sangat genjah (cepat), yakni sekitar 65–75 hari setelah tanam (HST). Selain itu, potensi hasilnya cukup tinggi, mencapai 8–9 ton per hektare.
“Benih ini kualitasnya unggul. Kalau varietas biasa butuh 110-120 hari, M70D bisa memangkas waktu sampai satu bulan lebih. Ini efektif untuk menambah masa tanam dalam setahun,” jelas Iing.
Selain cepat panen, varietas M70D juga diklaim tahan rebah, tahan terhadap hama wereng dan penyakit blast, serta adaptif di berbagai kondisi lahan. Melihat efektivitasnya, Dispertan berencana melanjutkan program bantuan ini pada tahun anggaran 2026, baik melalui APBD maupun bantuan pemerintah pusat. (fan/adf)










