PATI, Joglo Jateng – Stabilitas harga bawang merah di tingkat petani Kabupaten Pati kini sedang dalam kondisi mengkhawatirkan. Tren penurunan harga yang terus terjadi disinyalir kuat akibat maraknya peredaran bawang merah ilegal yang mulai membanjiri pasaran.
Ketua Asosiasi Bawang Merah Kabupaten Pati, Kasnawi mengungkapkan keresahan mendalam yang dirasakan para petani lokal. Munculnya isu impor bawang merah ilegal menjadi momok yang menakutkan karena berpotensi merusak struktur harga komoditas lokal yang selama ini sudah terbentuk.
Menurutnya, jika impor bawang merah ilegal tersebut benar-benar terjadi tanpa regulasi yang jelas, dampaknya akan sangat fatal bagi petani. Barang impor tersebut dikhawatirkan akan mendominasi pasar dan memukul harga bawang lokal.
Isu Bawang Ilegal Asal Thailand
Kasnawi menyebutkan bahwa desas-desus yang beredar di kalangan petani mengarah pada masuknya bawang merah ilegal dari Thailand. Ia sangat berharap pemerintah segera turun tangan untuk melakukan investigasi dan penindakan jika kabar tersebut terbukti benar.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat harga bawang merah ilegal biasanya dipatok jauh lebih murah dibandingkan produk lokal. Pihaknya meminta ketegasan aparat untuk menindak segala bentuk pelanggaran aturan impor yang merugikan petani kecil.
Harga Jauh di Bawah Acuan Pemerintah
Dampak dari situasi ini sudah mulai terasa di lapangan. Harga bawang merah di tingkat petani saat ini anjlok ke kisaran Rp 20 ribu per kilogram. Angka ini turun drastis dibandingkan kondisi dua pekan sebelumnya yang masih menyentuh angka hampir Rp 30 ribu per kilogram. Bahkan, untuk bawang ukuran kecil harganya bisa jatuh hingga Rp 17 ribu per kilogram.
Penurunan harga ini dinilai sudah tidak ideal. Kasnawi memaparkan, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag), harga acuan bawang merah di tingkat petani seharusnya berada di kisaran Rp 25 ribu hingga Rp 31 ribu per kilogram. Sedangkan harga di pasaran maksimal antara Rp 31 ribu sampai Rp 41 ribu per kilogram.
Kondisi ini menjadi ironi tersendiri bagi petani. Momen menjelang tahun baru yang biasanya menjadi masa panen raya keuntungan karena naiknya permintaan, justru berbalik menjadi masa sulit karena harga yang terjun bebas. Petani terancam tidak bisa menikmati keuntungan maksimal dari hasil kerja keras mereka musim ini. (lut/fat)










