Kisah Pilu Eks Karyawan Sritex: Usia Senja, Daftar Ojol Ditolak, Pesangon Tak Kunjung Cair

Eks karyawan Sritex yang didominasi lansia menggelar aksi unjuk rasa menuntut pesangon di depan PN Semarang
Eks Karyawan Sritex, Agus Wicaksono. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Gelombang unjuk rasa yang dilakukan Aliansi Eks Karyawan Sritex di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Senin (12/1), menyisakan cerita getir perjuangan kaum buruh. Di tengah orasi menuntut hak pesangon, terungkap fakta memilukan tentang sulitnya para korban PHK kembali menata hidup akibat benturan usia.

Tuntutan utama massa aksi adalah pencairan pesangon yang hingga kini belum diterima pasca pemutusan hubungan kerja. Situasi ekonomi para mantan pekerja kian terjepit karena mayoritas dari mereka kini berada di usia yang tidak lagi dilirik oleh pasar tenaga kerja.

Salah satu eks pekerja, Agus Wicaksono (65), warga Sukoharjo, membagikan kisah pilunya. Setelah 15 tahun mengabdi di bagian perpajakan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), kini ia harus bertahan hidup dengan beternak ayam seadanya.

“Saya sekarang nganggur, cuman angon pitik (menggembala ayam) di rumah, ayam petelur,” ujar Agus dengan nada lirih.

Daftar Ojol Ditolak karena Umur

Agus mengaku telah berupaya keras mencari pekerjaan alternatif. Namun, pintu kesempatan seolah tertutup rapat karena faktor usia lanjut. Bahkan, sektor informal seperti ojek online (ojol) pun tak bisa ia masuki.

“Terhalang usia kebanyakan. Mau daftar kerja nggak bisa, mau nge-grab aja nggak diterima karena umur,” keluhnya.

Sebagai koordinator aksi, Agus memaparkan data statistik kondisi rekan-rekannya:

  • Total Eks Karyawan: 8.475 orang.
  • Status Ekonomi: 50 persen lebih masih menganggur (luntang-lantung).
  • Tanggungan: Estimasi 15.000 jiwa terdampak (keluarga inti).
  • Tuntutan Pesangon: Sekitar Rp 380 miliar.

“Andai satu keluarga menanggung tiga orang, sudah lebih dari 15 ribu jiwa menunggu pesangon,” tegasnya.

33 Tahun Mengabdi, Kini Serabutan

Nasib serupa dialami Dewi (58), eks pekerja asal Klaten. Pengabdiannya selama 33 tahun sebagai operator mesin sejak 1991 seolah tak berbekas saat hak pesangon dan Tunjangan Hari Raya (THR) belum cair. Kini, ia menggantungkan hidup sepenuhnya pada suami yang bekerja serabutan.

“Pesangon belum cair itu bikin resah. Buat makan, bayar BPJS, anak-anak juga belum kerja,” tutur Dewi.

Harapan untuk mandiri juga disampaikan Penny (56). Ia sangat berharap pesangon bisa segera cair untuk dijadikan modal usaha kecil, mengingat melamar kerja di perusahaan lain sudah mustahil.

“Mau buat usaha juga belum ada modal. Kerja nggak diterima karena sudah tua,” pungkas Penny. (hfh/gih)