Kudus  

Tak Kunjung Surut, Banjir dan Longsor di Kudus Malah Makin Meluas

Banjir yang melanda Desa Kalidoro Pati
KONDISI: Banjir yang melanda Desa Kalidoro Pati, Rabu (14/1/26). (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Pantura Timur sejak akhir pekan lalu memicu banjir Pati dan Kudus yang kian meluas. Bencana hidrometeorologi ini menyebabkan ribuan rumah terendam, akses jalan putus, hingga menelan korban jiwa.

Pantauan di lapangan menunjukkan arus air keruh bercampur lumpur masih deras menggenangi permukiman dan lahan pertanian, memaksa warga bergegas menyelamatkan harta benda ke tempat yang lebih tinggi. Situasi kian mencekam karena intensitas hujan di kawasan hulu, seperti Pegunungan Muria, masih cukup tinggi.

127 Desa di Pati Terendam

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati mencatat dampak banjir sangat masif. Sebanyak 127 desa yang tersebar di 20 kecamatan kini terendam air.

“Kecamatan Jaken menjadi satu-satunya wilayah yang hingga kini masih melaporkan kondisi aman. Sedangkan titik terparah berada di Kecamatan Pati Kota dengan 20 desa terendam, disusul Wedarijaksa, Margoyoso, Tayu, Juwana, Winong, hingga Dukuhseti,” ungkap Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya.

Martinus menambahkan, banjir kini mulai bergerak ke arah timur. Pihaknya telah membuka lima posko pengungsian, antara lain di:

  • Balai Desa Doropayung
  • Bekas Stasiun Juwana
  • Balai Desa Bumirejo
  • Masjid Kalidoro

Kudus Tetapkan Status Tanggap Darurat

Kondisi tak kalah memprihatinkan terjadi di Kabupaten Kudus. Meluapnya Sungai Gelis, Piji, dan Dawe akibat curah hujan akumulatif yang mencapai 500 milimeter menyebabkan banjir dan longsor parah.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus resmi menetapkan Status Tanggap Darurat mulai 12–19 Januari 2026. Kepala Pelaksana BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko menyebutkan data dampak bencana hingga Selasa (14/1/2026) pukul 08.00 WIB sebagai berikut:

  • Korban Jiwa: 3 orang meninggal dunia (korban longsor di Menawan Gebog, hanyut di Desa Bacin, dan anak tenggelam di Karangbener).
  • Warga Terdampak: 15.237 Kepala Keluarga (KK) atau setara 48.193 jiwa.
  • Titik Terparah: Kecamatan Mejobo (Desa Kesambi), Jati, dan Jekulo dengan ketinggian air mencapai 100 sentimeter.

Longsor di Muria, Jembatan Portal Ambrol

Selain banjir, kawasan perbukitan Muria mengalami kerusakan fatal. Di Kecamatan Colo, kawasan wisata religi Sunan Muria, sebuah jembatan portal ambrol sepanjang 50 meter dengan kedalaman 20 meter.

“Insiden ini menyebabkan dua mobil terperosok masuk ke sungai, beruntung seluruh penumpang selamat,” jelas laporan BPBD.

Longsor juga terjadi di 18 titik Kecamatan Dawe dan 21 titik di Kecamatan Gebog. Salah satu longsoran di Dukuh Kambangan bahkan menewaskan seorang perempuan berusia 45 tahun.

Saat ini, tim gabungan TNI, Polri, dan relawan fokus mengevakuasi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. Meski debit air di Bendung Klambu dan Wilalung mulai menurun, BPBD mengingatkan potensi bencana susulan masih tinggi dan mendesak kebutuhan logistik berupa karung, tanah urug, serta alat berat kecil. (adm/lut/iza)