PURWOREJO, Joglo Jateng – Ratusan warga Desa Sukomanah, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, kembali menggelar tradisi Merti Desa Sukomanah pada Bulan Rajab tahun ini. Kegiatan ini menjadi wujud syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil bumi dan panen selama satu tahun terakhir.
Suasana khidmat dan guyub rukun sangat terasa saat warga bergotong royong membersihkan lingkungan desa, mulai dari makam leluhur, pepunden, hingga jalan desa. Tradisi bersih desa ini tidak hanya sekadar ritual fisik, namun juga dimaknai sebagai upaya membersihkan hati dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Mengenang Ki Napsoko, Sang ‘Robin Hood’ Jawa
Ketua Panitia Merti Desa, Suyatno mengungkapkan, tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang telah dilaksanakan sejak lebih dari seratus tahun lalu. Salah satu tujuan utamanya adalah menghormati Ki Napsoko, sosok perintis Desa Sukomanah.
Menurut sejarah lisan yang dipercaya warga, Ki Napsoko memiliki latar belakang istimewa.
“Bersih desa dipusatkan di makam Ki Napsoko. Beliau merupakan kerabat Keraton Mataram Kuno yang melanglang buana. Di sini, beliau dikenal menjadi Maling Aguno, sosok seperti Robin Hood yang mencuri untuk diberikan kepada orang-orang yang membutuhkan,” terang Suyatno, belum lama ini.
Pagelaran Wayang Kulit Siang dan Malam
Rangkaian acara merti desa di Sukomanah memiliki ciri khas tersendiri, yakni adanya pagelaran wayang kulit yang digelar sebanyak dua kali dalam satu hari. Pertunjukan ini menjadi simbol wajib yang tidak boleh ditinggalkan.
- Siang hari: Digelar di makam Ki Napsoko dengan dalang Ki Gondo Subroto. Lakon yang diangkat berhubungan dengan penanganan musibah.
- Malam hari: Digelar di rumah Kepala Desa dengan dalang Ki Wisnu Hadi Sugito, membawakan lakon Semar Kridho.
Kenduri Agung dan Swadaya Masyarakat
Kepala Desa (Kades) Sukomanah, Sarwono menambahkan, sebelum puncak pagelaran wayang, warga terlebih dahulu melaksanakan Kenduri Agung di Balai Desa Sukomanah pada pagi harinya. Sebanyak 250 Kepala Keluarga (KK) hadir membawa uba rampe berupa hasil bumi masing-masing.
“Selaku Pemdes, kami bersyukur bisa melaksanakan warisan leluhur. Kami selalu memotivasi masyarakat dan mereka sangat antusias. Dana kegiatan ini murni swadaya masyarakat yang luar biasa,” jelas Sarwono.
Antusiasme ini tidak hanya datang dari warga yang menetap, tetapi juga para perantau. Bagi mereka, merti desa adalah momentum nostalgia yang kuat.
“Merti desa ini menjadi hal yang memorable bagi para perantau karena sejak kecil mereka mengalaminya. Budaya agung ini harus diuri-uri (dilestarikan), jangan sampai putus tergerus zaman modern. Jangan lupa perjuangan para leluhur,” pungkasnya. (mrn/sam)










