PATI, Joglo Jateng – Potensi investasi asing mulai melirik sektor lingkungan hidup di Kabupaten Pati. Sebuah perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), Fabco Biocycle and Bioprotein Technology, menyatakan ketertarikannya untuk membangun fasilitas pengolahan sampah di wilayah berjuluk Bumi Mina Tani ini.
Kepala Bidang Kebersihan, Persampahan, dan Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati, Henri Setiawan membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, investor ini membawa teknologi pengolahan sampah organik berbasis Black Soldier Fly (BSF) atau maggot yang mampu menghasilkan bioprotein bernilai ekonomi tinggi.
“Mereka berorientasi pada pengurangan timbulan sampah serta produksi bioprotein dan produk turunan bernilai ekonomi,” terang Henri saat dikonfirmasi, belum lama ini.
Syarat Tipping Fee Rp 800 Ribu per Ton
Meski membawa angin segar, realisasi proyek ini menghadapi tantangan pada syarat yang diajukan investor. Henri menjelaskan, Fabco Biocycle mengajukan dua prasyarat utama agar proyek dinilai layak secara finansial.
Pertama, jaminan ketersediaan sampah minimal 25–50 ton per hari untuk operasional berkelanjutan. Kedua, penerapan tipping fee atau biaya pengolahan sampah yang harus dibayarkan pemerintah daerah kepada pihak swasta.
“Persyaratan utama investor menyampaikan tipping fee minimal USD 50 per ton atau kurang lebih Rp 800.000 per ton. Ini yang menjadi pertimbangan berat,” jelasnya.

Pemkab Tawarkan Dukungan Non-Fiskal
Menanggapi syarat tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menyatakan belum menyetujui skema tipping fee. Sebagai gantinya, Pemkab menawarkan skema dukungan bersifat non-fiskal untuk menarik minat investor tanpa membebani APBD secara langsung.
Dukungan tersebut meliputi:
- Penyediaan lahan yang statusnya clear and clean.
- Penyediaan sarana pendukung seperti akses jalan masuk yang representatif.
- Jaringan listrik 3 phase.
- Ketersediaan air bersih.
“Adapun dari pihak investor, terhadap skema dukungan non-fiskal tersebut masih diperlukan pembahasan lanjutan. Khususnya terkait implikasi terhadap kelayakan finansial proyek tanpa tipping fee,” lanjut Henri.
Targetkan 4 Wilayah di Jateng
Henri menambahkan, ketertarikan investor pengolahan sampah ini tidak hanya tertuju pada Kabupaten Pati. Dalam presentasinya, investor merencanakan pengembangan proyek serupa di empat wilayah strategis Jawa Tengah, yakni Grobogan, Demak, Magelang, dan Pati.
Proyek ini dinilai memiliki nilai strategis dalam mendukung agenda pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di Jawa Tengah, asalkan titik temu terkait pembiayaan dapat disepakati kedua belah pihak. (lut/fat/rds)










