Jepara  

Desa di Jepara Ini Punya 5 Ribu Penenun, Tiap Minggu Kirim Rp 500 Juta ke Bali

Seorang perajin di Desa Troso Jepara sedang menenun kain Tenun Troso menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
TELITI: Salah satu perajin tenun saat menenun membuat kain troso dengan alat tenun tradisional di Desa Troso, Kecamatan Pecangaam, Kamis (12/2). (HUMAS/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Industri rumahan Tenun Ikat Troso di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara mencatatkan kinerja ekonomi yang fantastis. Hanya untuk pengiriman ke pasar Bali saja, nilai transaksi kain tradisional ini mampu menembus angka Rp 500 juta setiap pekannya.

Fakta tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Desa Troso sekaligus Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Troso, Abdul Jamal. Menurutnya, tingginya permintaan dari Pulau Dewata menjadi bukti bahwa kain tenun asli Jepara memiliki daya saing kuat di pasar nasional.

“Permintaan dari luar daerah masih stabil, terutama dari Denpasar yang menjadi salah satu pasar utama. Ke Bali saja, tiap minggu bisa sampai lima ratus juta rupiah,” ungkap Jamal saat ditemui di sentra tenun Desa Troso, Kamis (12/2).

Libatkan 5.000 Penenun Lokal

Tingginya permintaan pasar berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Saat ini, Desa Troso telah menjelma menjadi salah satu sentra tenun terbesar di Jawa Tengah.

Berdasarkan data desa, tercatat ada lebih dari 5.000 penenun aktif yang menggantungkan hidupnya dari industri ini. Mereka mengoperasikan sekitar 3.000 Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang tersebar di rumah-rumah warga.

“Produksi mencapai ribuan lembar kain setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Prosesnya pun masih mempertahankan metode tradisional demi menjaga kualitas,” jelas Jamal.

Proses tersebut meliputi pemintalan benang, penggambaran motif, pengikatan, pewarnaan, penjemuran, pemaletan, hingga penenunan manual menggunakan ATBM.