KUDUS, Joglo Jateng – Meninggalnya bos besar Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, pada Kamis (19/3/2026) siang meninggalkan imperium bisnis raksasa yang menggurita di berbagai sektor strategis. Warisan gurita bisnis Grup Djarum ini bermula dari pabrik rokok kretek skala rumahan di Kabupaten Kudus yang kini sukses menjelma menjadi konglomerasi penyokong hajat hidup ribuan tenaga kerja.
Bersama sang adik, Robert Budi Hartono, mendiang sukses melakukan manuver ekspansi lintas sektor pasca mewarisi pabrik sang ayah pada tahun 1963.
Tidak hanya bergantung pada industri tembakau (PT Djarum), klan Hartono membangun portofolio investasi yang sangat kokoh, mulai dari sektor perbankan, manufaktur elektronik, properti komersial, hingga merajai pasar infrastruktur digital di lantai bursa Tanah Air.
Dominasi Sektor Finansial, Elektronik, dan Ritel
Gebrakan diversifikasi klan Hartono yang paling legendaris adalah penyelamatan dan pengambilalihan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada awal 2000-an. Penguasaan saham mayoritas di bank swasta raksasa ini menjadi tulang punggung bisnis Michael Bambang Hartono hingga saat ini.
Jauh sebelum itu, pada 1975, mereka juga sukses menggebrak pasar perangkat rumah tangga dengan mendirikan pabrik elektronik Polytron yang sangat populer di kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Gurita bisnis ini makin menggila di sektor properti dan ritel. Grup Djarum diketahui memiliki dan mengelola aset prestisius di ibu kota seperti Grand Indonesia, serta menguasai jaringan ritel pasar premium PT Supra Boga Lestari Tbk (Ranch Market).
Agresif Merambah Teknologi Digital dan Kesehatan
Menyadari pergeseran zaman, Grup Djarum membuktikan adaptabilitasnya dengan agresif terjun ke ekosistem teknologi. Melalui PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), mereka membesarkan platform e-commerce raksasa Blibli.
Tak berhenti di situ, dominasi infrastruktur jaringan mereka amankan lewat kepemilikan saham di PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), yang mengelola ribuan menara telekomunikasi di seluruh Indonesia. Baru-baru ini, investasi mereka juga menyasar lini medis dengan mencaplok saham mayoritas pada jaringan Rumah Sakit Hermina (HEAL). Keseluruhan ekosistem inilah yang menjadi warisan peradaban abad ke-21 dari seorang Michael Bambang Hartono. (hms/ara/rds)










