Kudus  

Tembus Ratusan Triliun! Ini Sumber Harta Kekayaan Mendiang Bos Djarum Michael Bambang Hartono

Potret Michael Bambang Hartono, bos besar PT Djarum sekaligus atlet bridge nasional yang baru saja tutup usia.
Sosok mendiang Bos Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, yang meninggal dunia pada Kamis (19/3/2026) di Singapura. (ANTARA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Kepergian Michael Bambang Hartono pada Kamis (19/3/2026) siang turut menyoroti rekam jejaknya sebagai salah satu konglomerat paling berpengaruh di Tanah Air. Sebagai pilar utama Grup Djarum dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), nilai kekayaan Michael Bambang Hartono ditaksir menembus angka ratusan triliun rupiah.

Berdasarkan pencatatan real-time dari majalah finansial global Forbes pada Kamis (19/3/2026), harta bersih mendiang pria asal Kudus ini ditaksir mencapai US$ 17,5 miliar.

Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah (asumsi kurs Rp 16.900 per dolar AS), total kekayaan tersebut berada di kisaran fantastis Rp 295,7 triliun. Angka ini secara absolut mengukuhkannya di urutan ke-158 orang terkaya di dunia dan memuncaki daftar di Indonesia bersama sang adik, Robert Budi Hartono.

Saham Perbankan Jadi Mesin Utama

Meski kerajaan bisnisnya bermula dari lintingan rokok kretek di Kabupaten Kudus, pundi-pundi rupiah terbesar keluarga Hartono justru disumbang dari sektor keuangan dan perbankan.

Keluarga Hartono secara brilian melakukan manuver bisnis dengan membeli kepemilikan saham di BCA melalui konsorsium FarIndo Investments pada awal era 2000-an. Keputusan investasi yang dilakukan usai krisis moneter tersebut terbukti membuahkan hasil luar biasa, di mana BCA kini menjelma menjadi bank swasta dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia.

Melalui kepemilikan saham mayoritas di bank bersandikan ticker BBCA tersebut, aliran kekayaan klan Hartono terus menggelembung setiap tahunnya. Berkat insting bisnis jangka panjang yang tajam, warisan finansial yang ditinggalkan Michael kini tak hanya menjadi kebanggaan keluarga, namun turut memutar urat nadi stabilitas ekonomi nasional. (hms/ara/rds)