KUDUS, Joglo Jateng – Pergelaran tradisi Kupatan di Kudus dipastikan kembali meriah dengan beragam agenda budaya yang menyedot perhatian warga lokal maupun wisatawan. Tradisi warisan leluhur ini menjadi magnet pariwisata yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mempererat kohesi sosial masyarakat sekitar.
Terdapat empat agenda unggulan yang rutin dilaksanakan di berbagai wilayah desa. Lokasi tersebut meliputi Desa Colo dengan Parade Sewu Kupat, Desa Purworejo dengan Kupatan Sendang Jodoh, Desa Kesambi dengan Gebyar Kupatan, dan Desa Hadipolo dengan Kupatan Bulusan.
Guna memastikan kelancaran seluruh rangkaian acara, Disbudpar Kudus telah melakukan serangkaian monitoring intensif. Pengawasan ini mencakup persiapan teknis, koordinasi dengan pihak terkait, serta jaminan keamanan destinasi wisata.
Plh Kepala Disbudpar Kudus, Teguh Riyanto, melalui Subkoordinator Destinasi Wisata, Aflah, menjelaskan bahwa strategi pengawasan tahun ini melibatkan banyak pihak. Di Desa Kesambi, panitia lokal bahkan telah berkoordinasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat untuk memastikan keselamatan pengunjung.
“Petugas yang diterjunkan khusus bidang pariwisata fokus memantau beberapa titik lokasi strategis menjelang Parade Kupat. Tujuannya agar setiap kegiatan berjalan lancar, aman, dan tetap menonjolkan nilai budaya lokal,” ujarnya.
Daya Tarik Magis dan Hiburan Rakyat
Setiap desa penyelenggara memiliki daya tarik historis dan hiburan yang berbeda-beda. Di Desa Colo, ribuan kupat warna-warni akan dihias dan diarak dalam parade sebagai wujud kreativitas dan kebersamaan warga lereng Muria.
Sementara itu, tradisi di Desa Purworejo tak hanya berfokus pada kuliner semata, tetapi juga sarat akan makna filosofis. Ritus Kupatan Sendang Jodoh di desa tersebut diyakini oleh masyarakat mampu membawa keberuntungan dalam urusan asmara dan kehidupan rumah tangga.
Di sisi lain, perayaan di Kesambi dan Hadipolo menawarkan pesta hiburan kerakyatan yang dikemas secara meriah. Pengunjung akan disuguhi berbagai pertunjukan seni lokal, permainan tradisional, hingga bazar kuliner khas Kudus.
“Kami ingin masyarakat maupun wisatawan bisa merasakan pengalaman budaya yang autentik. Sekaligus mendukung pelestarian tradisi kupatan yang telah ada turun-temurun,” tutur Aflah.
Lebih lanjut, Disbudpar memastikan koordinasi dengan panitia desa tetap berjalan optimal meski jumlah petugas pengawas terbatas. Keamanan, kenyamanan, dan kelestarian tradisi tetap menjadi prioritas utama.
“Festival kupatan tahun ini diharapkan bisa meninggalkan kesan mendalam bagi pengunjung dan warga Kudus,” harapnya. (uma/fat/rds)










