Lawan Stigma Gender Melalui Pelatihan
Tantangan lainnya datang dari stigma masyarakat yang kerap menganggap bahwa pekerjaan mengukir yang menuntut ketahanan fisik adalah ranah eksklusif kaum laki-laki.
Padahal, karya para pengukir lokal selama ini telah terbukti sukses menembus pasar ekspor hingga ke Malaysia dan Turki.
“Kalau punya kemampuan, perempuan juga bisa menghasilkan ukiran yang bagus. Itu soal skill, bukan soal laki-laki atau perempuan,” tegasnya.
Sebagai langkah penyelamatan, Paguyuban Pengukir Jepara yang menaungi kelompok perempuan (dengan sisa 20 anggota aktif) kini mulai menginisiasi pelatihan memahat di sekolah-sekolah.
“Kalau tidak dikenalkan sejak dini, lama-lama bisa hilang. Padahal ini bukan hanya budaya, tapi juga sumber penghidupan masyarakat,” pungkasnya. (oka/gih/rds)










