Dorongan WBTB UNESCO dan Pujian Fadli Zon
Selain dari jajaran pemerintah daerah, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon turut memberikan respons yang sangat positif. Saat membuka pameran ‘Tatah’, ia menyebut acara ini bukan sekadar panggung edukasi sejarah, tetapi ajang promosi krusial agar karya seniman lokal makin mendunia.
“Seni ukir Jepara ini sudah berusia 500 tahun lebih, mulai dari Masjid Mantingan di era Ratu Kalinyamat, dilanjutkan RA Kartini, dan maestro-maestro ukir kontemporer hingga kini,” papar Fadli Zon.
Ia menggarisbawahi bahwa ukir Jepara memiliki nilai esksklusivitas yang sangat jauh berbeda dengan produk furnitur pabrikan (mass production).
Keterampilan artistik tingkat tinggi itu terlihat jelas dari ukiran Macan Kurung yang dipahat teliti dari satu bongkahan kayu utuh tanpa sambungan.
“Mudah-mudahan dengan adanya pameran ini, masyarakat bisa lebih mengenal tidak hanya seniman yang melukis di kanvas, maupun seni instalasi, tapi ada juga yang menggunakan medium kayu bahkan ini sudah ratusan tahun dan terkenal di seluruh dunia,” harapnya.
Sebagai bukti keseriusan pemerintah pusat, Fadli Zon saat ini tengah mengupayakan pendaftaran seni ukir Jepara ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO.
Meskipun terkendala kuota pengajuan single nomination (satu negara dibatasi pengajuan dua tahun sekali), kementeriannya berjanji akan mencari jalur alternatif, termasuk berkolaborasi lintas negara, guna mempercepat pengakuan internasional tersebut. (oka/gih/rds)










