Kudus  

Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu di Kudus Pilih Tahan Harga Jual

PRODUKSI: Proses produksi tahu di industri skala rumahan milik Noor Rosyid yang berlokasi di Desa Ploso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Melonjaknya harga kedelai impor secara signifikan pasca-Lebaran menjadi pukulan telak bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perajin tahu. Namun, di tengah himpitan biaya produksi, seorang produsen tahu Kudus memilih jalan yang tak biasa demi mempertahankan pelanggan setianya.

Aroma kedelai rebus masih mengepul pekat dari rumah produksi milik Noor Rosyid di Desa Ploso, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Di balik kesibukannya mengaduk dan mencetak tahu, laki-laki ini tengah menghadapi persoalan berat akibat harga kedelai naik yang terus merangkak tak terkendali.

Sebagai produsen skala rumahan, kelangsungan usaha Noor sangat bergantung pada kedelai yang sebagian besar masih diimpor dari Amerika Serikat. Ironisnya, saat harga bahan baku meroket, ia justru menolak opsi untuk menaikkan harga jual produknya.

“Harganya tetap. Tindakan tetap sama, ukuran juga tetap sama,” ujarnya dengan nada mantap saat ditemui di sela-sela proses produksi.

Rela Margin Tipis hingga Merugi

Keputusan untuk menahan harga dan tidak mengecilkan ukuran potongan tahu tersebut jelas bukan tanpa risiko. Noor mengakui bahwa margin keuntungan usahanya kini semakin menipis.

Tekanan ekonomi itu semakin nyata seiring dengan merosotnya jumlah produksi harian. Jika sebelumnya mesin cetak tahu bisa beroperasi maksimal dan stabil, kini ia harus mengerem kapasitas produksi menyesuaikan daya beli konsumen pasar yang ikut lesu.

“Keuntungannya menurun, kadang rugi,” tuturnya membeberkan realitas pahit usahanya.

Situasi penuh ketidakpastian harga pasar seperti ini sejatinya bukan hal baru bagi Noor. Ia teringat masa-masa paling kelam saat badai pandemi COVID-19 nyaris menggulung roda usahanya beberapa tahun silam.

“Dulu sudah pernah, waktu corona,” kenangnya.

Harapan Stabilitas Harga

Kini, tantangannya kembali bertambah. Para pelanggan di pasar mulai kerap mempertanyakan kondisi perekonomian yang membuat harga berbagai bahan pokok ikut terseret naik.

Meski terus dihujani keluhan dan tekanan biaya operasional, komitmen Noor tidak goyah. Kualitas produk, mulai dari ukuran, rasa, hingga kekenyalan tahu harus tetap sama seperti saat harga bahan baku sedang normal.

Di tengah ketidakpastian harga kedelai global, produsen tahu rumahan ini hanya menyandarkan satu harapan besar kepada pemerintah, yakni terciptanya stabilitas harga.

Baginya, harga bahan baku yang stabil adalah kunci utama untuk mengembalikan ritme produksi, menjaga pelanggan, serta memastikan napas usaha kecil di desa tetap berdenyut. (uma/iza/rds)