KENDAL, Joglo Jateng – Kabupaten Kendal resmi masuk dalam daftar daerah darurat sampah versi Sungai Watch, sebuah organisasi lingkungan yang digagas oleh para aktivis global. Tumpukan limbah plastik yang tidak terkelola dengan baik di aliran sungai wilayah ini dinilai menjadi ancaman serius bagi kelestarian ekosistem laut.
Penilaian kritis tersebut disampaikan langsung oleh Pendiri Sungai Watch, Gary Bencheghib, di sela-sela aksi pembersihan Sungai Kendal di Kelurahan Ngilir, Senin (4/5/2026).
Kegiatan gotong royong ini melibatkan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal, relawan lokal, anggota TNI, hingga Polri. Gary membeberkan bahwa kondisi sungai di wilayah tersebut sangat memprihatinkan dan sejajar dengan status krisis di Sidoarjo.
“Ada dua daerah yang menurut kami darurat, Sidoarjo dan Kendal ini,” ungkap Gary saat menjalankan ekspedisi Run for Rivers.
Sampah Berpindah ke Laut
Temuan mengejutkan ini didapatkan saat tim Sungai Watch melintasi pesisir Jawa Tengah pada etape ke-37 dalam perjalanan mereka dari Bali menuju Jakarta.
Di lokasi Kelurahan Ngilir, tumpukan limbah rumah tangga terlihat tebal menutup sebagian besar permukaan air. Jika dibiarkan, ancaman pencemaran pesisir akan semakin parah karena aliran air otomatis membawa kotoran tersebut ke hilir.
“Sungainya penuh sampah, saat hujan memang hilang, tapi itu hanya berpindah ke laut. Sungai adalah sumber kehidupan, kalau kotor dampaknya panjang,” tegasnya.
Menindaklanjuti krisis ini, organisasi tersebut menetapkan Kendal sebagai target utama pengembangan program lingkungan. Mereka berencana membuka cabang di Jawa Tengah dan memasang 20 hingga 25 jaring sampah berbahan Polyvinyl Chloride (PVC) di sepanjang titik kritis aliran sungai.
Pemkab Akui Problem Besar
Merespons sorotan tersebut, Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi tidak menampik realitas di lapangan. Ia mengakui bahwa krisis tumpukan limbah di sungai merupakan masalah fundamental yang membutuhkan intervensi segera dari Pemkab Kendal.
“Ini problem besar yang harus segera ditangani,” kata Benny.
Menurutnya, perbaikan sistem pengelolaan tata kota saja tidak akan cukup tanpa dibarengi revolusi mental dan perubahan perilaku masyarakat.
“Keteladanan harus dimulai dari diri sendiri, dari keluarga hingga lingkungan. Kami berharap kehadiran program ini membantu menyelesaikan persoalan sampah di Kendal,” pungkasnya.
Sebagai informasi, ekspedisi lari Run for Rivers menempuh jarak 1.260 kilometer dari Bali ke Jakarta. Kampanye ini menargetkan penggalangan dana hingga 1 juta dolar AS demi mengangkat 1 juta kilogram limbah plastik dari sungai-sungai di Indonesia. (ags/gih/rds)










