Opini  

Speech Delay, Gizi Anak dan Kondisi Perempuan Kita

Betari Imasshinta

Kedua, menggiatkan pendidikan parenting baik di masa prapernikahan maupun pascapernikahan. Pendidikan ini sudah sepatutnya menjadi agenda yang mudah diakses serta tidak membebani masyarakat.

Semua stakeholder terkait sudah seharusnya menyediakan pendidikan parenting yang berkelanjutan. Pendidikan tersebut harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat hingga ke pelosok daerah, serta murah tanpa mengurangi kualitasnya.

Semua pihak berhak menyediakannya, sesuai kapasitas dan kelayakannya terhadap wawasan parenting. Bahkan masyarakat awam sah menyediakan pendidikan parenting sejauh dirinya memahami pengetahuan tersebut dan lingkungan sekitarnya memberi legitimasi.

Maka tidak semestinya pendidikan parenting menjadi barang mahal dan eksklusif. Hal ini bahkan seharusnya menjadi tanggung jawab negara untuk menyediakannya bagi masyarakat.

Ketiga, melawan kerentanan ekonomi dengan menciptakan kemandirian ekonomi keluarga. Wawasan pengembangan ekonomi mestinya menjadi dahaga bagi keluarga khususnya yang berada dalam taraf kerentanan ekonomi.

Lucunya, yang luput dari ikhtiar mayoritas masyarakat kita adalah bagaimana memenuhi kebutuhan primer keluarga sebisa mungkin dari sumber daya sekitar agar terjangkau dan berkelanjutan. Konsep menuju kemandirian ekonomi adalah dengan memenuhi kebutuhan yang paling besar dengan biaya yang minimal.

Pangan adalah kebutuhan terbesar bagi keluarga. Maka mandiri pangan, atau kedekatan akses kepada sumber pangan, adalah langkah paling utama menuju ketahanan ekonomi keluarga, begitu pun kebutuhan lainnya.

Mengupayakan akses kepada sumber pangan sudah sepatutnya berbarengan dengan keharusan untuk berinvestasi. Yaitu konsep mengakumulasi pendapatan untuk pertumbuhan ekonomi keluarga yang lebih layak dalam jangka panjang.

Mengubah kondisi dari rentan menjadi mandiri, dari kerentanan menjadi ketahanan ekonomi bagi sebuah keluarga tentu membutuhkan kemampuan fisik dan psikis yang matang juga konsisten. Ketahanan ekonomi yang diwujudkan semestinya sejalan dengan tumbuhnya kesadaran setiap individu untuk menjalankan peran dan fungsi sesuai porsi, tanpa berlebih atau bertumpuk.

Dengan kematangan perencanaan yang spesifik dan terukur, keluarga akan mampu aman atas guncangan ekonomi dan emosional. Termasuk kebutuhan anak akan lingkungan bertumbuh yang baik dan lengkap juga akan mudah terwujud. Sebab setiap individu tidak khawatir kebutuhannya tidak terpenuhi dan sadar untuk mengambil perannya. (*)