Sementara itu, Museum Tosan Aji Purworejo saat ini memiliki koleksi sebanyak 1.628 benda pusaka yang terdiri atas keris, tombak, pedang, hingga samurai.
Yudhie menambahkan, masyarakat yang ingin berkonsultasi maupun melakukan jamasan pusaka secara mandiri dapat berkoordinasi dengan pamong budaya di Museum Tosan Aji.
“Kami terbuka bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi ataupun belajar terkait perawatan pusaka melalui Museum Tosan Aji,” ungkapnya.
Mengenai penampilan kesenian yang ada, Yudhie menjelaskan, pemilihan kesenian tersebut sengaja dilakukan untuk memperkuat upaya pelestarian budaya lokal.
Tari Saparan merupakan kesenian asli Kaligesing yang dibawakan siswa SMP Negeri 4 Purworejo. Sedangkan Cingpoling merupakan seni tradisi yang masih lestari di wilayah Kaligesing dan Pituruh.
Sementara Wayang Gagrak Bagelenan memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan wayang dari Yogyakarta maupun Surakarta, baik dari sisi musik maupun motif wayangnya.
“Wayang Gagrak Bagelenan ini sedang kami usulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Ini bagian dari ikhtiar kita menjaga identitas budaya Purworejo,” jelasnya.
Melalui siaran langsung yang ditayangkan secara digital, Yudhie berharap generasi muda dapat semakin mengenal, mencintai, dan memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi budaya daerah.
“Harapannya, anak-anak muda bisa mengenal budaya kita terlebih dahulu, kemudian mencintai, dan akhirnya mampu mengambil makna yang terkandung di dalamnya untuk kehidupan sehari-hari,” jelas Yudhie.
Dalam sambutannya, Bupati Purworejo Yuli Hastuti menyatakan Tahun Baru Jawa bukan sekadar pergantian penanggalan, tetapi merupakan momentum untuk melakukan introspeksi diri.
Hal ini juga menjadi momen memperkuat nilai-nilai kebajikan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan komitmen dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, berbudaya, dan berkarakter.
“Jamasan bukan hanya membersihkan benda pusaka secara fisik, tetapi juga mengandung filosofi penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, serta upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam lingkungan, dan warisan budaya leluhur,” kata Yuli Hastuti. (mrn/ree/rds)










