Jepara  

Pemadaman Listrik Bergilir di Jepara, Pedagang Ikan Hias Rugi Ratusan Ribu

USAHA: Tafsir (29), pemilik usaha ikan hias di sekitar Pasar Pecangaan, Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, saat menunjukkan usaha ikan hiasnya, Selasa (23/6/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi hampir dua pekan terakhir di Pulau Jawa mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik, salah satunya pedagang ikan hias di Kabupaten Jepara.

Tafsir (27), pemilik usaha ikan hias di sekitar Pasar Pecangaan, Desa Pecangaan Kulon, Kecamatan Pecangaan, mengaku mengalami kerugian setelah pemadaman listrik yang berlangsung hingga sekitar 5 jam pada Kamis (18/6/2026) lalu.

Menurutnya, listrik memiliki peran penting untuk mengoperasikan pompa, aerator, dan peralatan pendukung lainnya yang berfungsi menyuplai oksigen ke dalam akuarium maupun kolam ikan.

“Biasanya kalau listrik padam pakai genset. Tapi saat pemadaman pada Kamis (18/6/2026) berlangsung sekitar 5 jam, gensetnya itu rewel, nggak maksimal akhire ikan pada mati. Kejadiannya sekitar 5 hari lalu,” terangnya saat ditemui di toko ikan hias miliknya, Selasa (23/6/2026).

Akibatnya, pasokan oksigen untuk ikan tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut berdampak pada ikan-ikan berukuran kecil yang lebih rentan mengalami stres dan kekurangan oksigen. Dalam kejadian pemadaman yang dialami Tafsir, sekitar 30 ekor ikannya mati. Ikan tersebut berukuran kecil dengan nilai jual berkisar Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per ekor.

“Yang mati kebanyakan ikan kecil. Total sekitar 30 ekor. Kerugiannya ratusan ribu ya,” katanya.

Tafsir mengatakan, berbagai jenis ikan hias yang dipeliharanya, mulai dari Glowfish, cupang, molly, koki, koi, channa, komet, manfish, discus hingga arwana, membutuhkan sirkulasi air dan suplai oksigen yang harus berjalan selama 24 jam tanpa henti.

Usaha ikan hias yang telah dirintis keluarganya selama sekitar 20 tahun itu menggunakan listrik berdaya 2.200 VA dengan biaya pemakaian lebih dari Rp 1 juta per bulan.

Tafsir khawatir setiap kali terjadi pemadaman listrik, terutama pada malam hari. Sebab, kata dia, keterlambatan penanganan saat listrik padam dapat berakibat fatal bagi ikan-ikan yang membutuhkan suplai oksigen secara terus-menerus.

“Khawatir, waswas. Karena kalau pemadamannya malam harus langsung tahu itu, kalau tidak ditangani cepat, ikan bisa mati,” ujarnya.

Tafsir mengungkapkan, meski selama ini telah menyiapkan genset sebagai sumber listrik cadangan, pemadaman yang berlangsung cukup lama tetap berpotensi menimbulkan kerugian apabila pasokan listrik pengganti tidak mampu menopang seluruh kebutuhan peralatan.

Tafsir berharap, pemadaman listrik dapat diminimalkan agar tidak mengganggu usaha yang sangat bergantung pada pasokan listrik. “Harapannya jangan terlalu sering ada pemadaman. Apalagi untuk pengusaha usaha ikan hias. Pompa dan aerator harus hidup terus selama 24 jam supaya ikan tetap sehat. Kita kan juga bayar listrik terus per bulannya Rp 1 juta,” pungkasnya. (oka/gih/rds)