Peluncuran Buku Puisi Guru Purworejo Suarakan Kepahitan dan Kritik Sosial

KARYA: Seniman sekaligus wartawan senior, Sumanang TS, saat membedah buku Antologi Puisi Guru yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Purworejo di Aula Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Purworejo di Kutoarjo, Selasa (30/6/2026). (MARNIE/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Seni, termasuk puisi, sejatinya bukan semata urusan estetika, melainkan lebih dari itu. Seni sering bersimultan dengan kepentingan di luar kesenian.

“Bagi orang yang tak sanggup menulis puisi, sering memperalat puisi untuk mewakili suara dirinya, untuk demo, dan lainnya,” ungkap seniman asli Kabupaten Purworejo, Sumanang Tirta Sujana atau akrab disapa Sumanang TS.

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembedah buku dalam peluncuran Buku Puisi Guru Purworejo. Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Purworejo (DKP) di Aula Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Purworejo di Kutoarjo, Selasa (30/6/2026).

Buku kumpulan puisi tersebut ditulis oleh 53 guru SD dengan total 106 karya puisi di dalamnya. Menurut Sumanang, puisi akan terus ditulis oleh siapa pun dan dari kalangan apa pun.

“Minimal ditulis oleh orang yang sedang galau, rindu, kangen, dan yang sedang basah oleh air mata. Yang tidak bisa dibantah, 53 penulis puisi ini adalah bagian dari orang terpilih di antara 4.374 guru di Purworejo,” tuturnya.

Wartawan senior ini menyebut proses tersebut sebagai dunia pemikiran kognisi yang sunyi. Ia menilai ke-53 penulis ini memiliki entitas yang berbeda.

Buku antologi puisi ini menjadi media visualisasi guru yang mulutnya terbungkam untuk menyampaikan protes lewat puisi. Sumanang membeberkan, dari 106 karya para guru SD itu, ia mengelompokkannya menjadi tiga tematik.

Pertama adalah tematik romantisme yang ditandai dengan diksi lentur dan mengalir menyejukkan harmoni jiwa. Tematik kedua adalah Aroma Imajis Religi, serta yang ketiga adalah pamflet kritik sosial.

“Jenis puisi pamflet kritik sosial ini kelebihannya sangat transparan, lugas, dan mudah dicerna karena nyaris tanpa penggunaan bahasa simbolik,” papar Sumanang.

Jenis puisi transparan ini berciri memiliki agitasi dan daya ofensif atau menyerang. Puisi tersebut menyuarakan kondisi kepahitan, keadaan yang tidak semestinya, hingga buruknya ketimpangan sosial.

Dia menambahkan, bagi penyair atau penulis puisi, berpuisi bisa menjadi healing of art. “Jika mulut tak bisa berkata, terbungkam, maka dengan puisi kita bisa berbicara,” tandasnya.

Menurutnya, dengan puisi seseorang bisa menyalurkan unek-unek dalam hati serta mengurai kepenatan pikiran dari suatu keadaan, baik perihal sedih, duka, tertekan, maupun kebahagiaan.

“Karena otak kita butuh ruang, maka penyair harus mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri dari kondisi depresi sosial yang menekan. Jalan keluarnya tidak lain adalah berkarya menulis puisi,” terangnya. (mrn/ree/rds)