Sementara dari sisi bisnis, Jazuli mengingatkan bahwa aset terbesar yang dimiliki perusahaan media bukan sekadar teknologi atau jumlah pembaca, melainkan kepercayaan publik.
Dalam workshop ini juga ditegaskan bahwa media memiliki tanggung jawab lebih luas dibanding sekadar menyampaikan informasi.
Media diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial, membangun optimisme masyarakat, dan memperkuat solidaritas publik. Serta menghadirkan narasi yang mendorong semangat kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Konsep jurnalisme positif pun menjadi salah satu fokus pembahasan. Pendekatan ini bukan berarti menutup-nutupi persoalan yang terjadi di masyarakat.
Melainkan menyajikan fakta dengan perspektif yang memberikan solusi dan membangun harapan.
Para narasumber menegaskan bahwa media yang mampu menjaga akurasi, transparansi, dan kepedulian terhadap kepentingan publik akan menjadi media yang memperoleh kepercayaan masyarakat.
Untuk menjaga kualitas pemberitaan sekaligus mencegah dampak negatif di masyarakat, peserta workshop juga didorong menerapkan empat prinsip utama sebelum sebuah informasi dipublikasikan, yaitu:
Menghindari penggunaan visual yang berpotensi menimbulkan rasa jijik atau trauma pada publik.
Tidak menggunakan narasi yang bersifat provokatif dan dapat memicu konflik.
Menghadirkan narasumber atau tokoh masyarakat yang memberikan perspektif menenangkan dan menyejukkan.
Mengonfirmasi perkembangan penanganan kasus kepada aparat penegak hukum agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak terdorong melakukan tindakan main hakim sendiri.
Kegiatan itu juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, Dewan Pers, perusahaan media, dan insan pers dalam membangun ekosistem media yang sehat.
Regulasi yang disusun pemerintah dan Dewan Pers perlu diimbangi dengan peningkatan profesionalisme jurnalis. Hal itu agar industri media mampu berkembang secara berkelanjutan di tengah perubahan lanskap digital.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Tribun Jogja, Ibnu Taufik Juwariyanto mengingatkan bahwa paradigma pemberitaan juga perlu berubah.
Selama ini dikenal ungkapan bad news is good news. Namun menurutnya, di tengah kebutuhan masyarakat akan informasi yang mencerahkan, berita positif yang berkualitas juga memiliki nilai penting.
“Bad news is good news, but good news is good news too,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penegas bahwa masa depan media tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menyampaikan informasi. Tetapi juga oleh kemampuannya membangun kepercayaan, menghadirkan jurnalisme berkualitas, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. (hms/rds)










