Masalah utama mencuat di kawasan blank spot, di mana wilayahnya yang jauh dari jangkauan radius zonasi sekolah negeri, salah satunya di daerah Gentansari.
Banyak orang tua murid yang sempat kelabakan hingga mengalami stres akibat anak mereka berulang kali terdepak dari sistem seleksi online.
Doko Harwanto menceritakan langsung bagaimana pelik dan dramatisnya situasi yang dihadapi para wali murid di lapangan saat itu.
“Ada orang tua yang mendaftarnya itu sampai tertolak berkali-kali. Pindah sini sudah penuh, toh sini sudah penuh. Ini berlaku untuk yang sampai keempat lima kali gitu kan,” ungkap Doko menceritakan dinamika di lapangan.
Guna mengurai benang kusut tersebut, Dindikpora Kabupaten Banjarnegara bergerak cepat memberikan solusi konkret.
Dinas turun tangan membantu mengarahkan para orang tua ke sekolah-sekolah terdekat yang masih menyisakan kuota. Terutama akibat adanya calon siswa lain yang mengundurkan diri atau tidak melakukan daftar ulang.
Di akhir keterangannya, Doko tidak hanya memberikan solusi administratif, tetapi juga menyuntikkan motivasi mendalam.
Ia berharap pengalaman pahit tertolak di sekolah impian bisa menjadi bahan bakar bagi anak-anak Banjarnegara untuk membuktikan kualitas diri di masa depan.
“Mudah-mudahan pengalaman terakhir untuk anak-anak ditolak, besok harus belajar lebih sungguh-sungguh sehingga besok bukan mencari tapi dicari oleh sekolah,” pesannya.
“Kalau anak prestasi, saya yakin dicari bukan mencari. Sekolah yang mencari, bukan murid yang mencari sekolah,” pungkas Doko kepada Joglo Jateng. (cr1/ree/rds)










