JEPARA, Joglo Jateng – Budidaya rumput laut di Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara mampu memasok ratusan ton komoditas ke pasar ekspor setiap tahun. Namun, di balik besarnya potensi tersebut, petani masih menghadapi persoalan, yakni ketergantungan terhadap pasokan bibit dari luar daerah.
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Dzul Fikar Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Muslihun mengatakan, selama ini bibit rumput laut didatangkan dari berbagai daerah. Hal ini dikarenakan Karimunjawa belum memiliki sumber pembibitan yang mampu memenuhi kebutuhan petani.
“Bibit kami ambilnya berganti-ganti, ada dari Situbondo, Lampung, dan Bali,” ucap Muslihun, Minggu (19/7/2026).
Menurut dia, bibit rumput laut harus diremajakan setiap empat tahun sekali. Jika bibit yang sama terus digunakan tanpa pergantian, kualitas tanaman akan menurun hingga berpotensi gagal panen.
Muslihun menjelaskan, hasil panen rumput laut dari Karimunjawa selama ini dipasarkan ke perusahaan pengolahan di Surabaya, Jawa Timur. Sebagian lainnya juga diekspor ke China dan Jepang.
Untuk memenuhi pasar ekspor saja, kata dia, pengiriman rumput laut dari Karimunjawa mencapai sekitar 300 hingga 400 ton setiap tahun.
“Permintaan rumput laut memang tinggi karena kualitasnya bagus. Hanya saja kendala utama kami tetap pada ketersediaan bibit,” ujarnya.
Persoalan tersebut mulai mendapat solusi melalui program pengembangan budidaya rumput laut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI. Program tersebut mencakup bantuan benih sekaligus pengembangan kawasan pembibitan.
Muslihun menyebut, pembibitan telah dimulai sejak Senin (13/7/2026) di lahan seluas 5 hektare yang berada di Desa Kemujan. Bibit hasil pengembangan tersebut nantinya akan digunakan untuk mendukung budidaya rumput laut di lahan seluas 45 hektare di kawasan yang sama.
Ia berharap, program tersebut tidak berhenti pada bantuan awal, tetapi berlanjut melalui pembinaan dan penyediaan bibit secara berkesinambungan.
“Kami berharap ada pembinaan yang berkelanjutan. BBPBAP bisa menyediakan bibit secara kontinu sehingga petani tidak perlu lagi mendatangkan bibit dari luar daerah, sekaligus membantu menjaga kestabilan harga,” katanya.
Di sisi lain, harga rumput laut saat ini dinilai cukup menguntungkan bagi petani. Rumput laut basah dihargai sekitar Rp 2.500 per kilogram, sedangkan rumput laut kering mencapai Rp 25 ribu per kilogram.
Potensi pasar yang terus terbuka itu dinilai menjadi peluang besar bagi Karimunjawa untuk meningkatkan produksi, selama persoalan ketersediaan bibit dapat diatasi. (oka/gih/rds)










