Pati  

Digelar Lewat Tradisi Brokohan, Deklarasi Gerak Nusantara di Pati Soroti Kondisi Bangsa

MOMEN: Deklarasi Gerak Nusantara yang dipimpin oleh Gunretno saat tradisi brokohan di Sawah Karang, Desa Pundenrejo, Kabupaten Pati, belum lama ini. (DOK. GERAK NUSANTARA/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – Gerakan Rakyat Menuju Putusan Tatanan Sejahtera (Gerak Nusantara) resmi dideklarasikan. Gerakan ini lahir untuk menyikapi kondisi bangsa Indonesia, khususnya terkait kesejahteraan.

Deklarasi ini dipimpin oleh Gunretno saat tradisi brokohan di Sawah Karang, Desa Pundenrejo, Kabupaten Pati, belum lama ini.

Ia menegaskan, Gerak Nusantara adalah upaya kebudayaan yang mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk kembali menghidupkan kedaulatan sebagai cara hidup.

“Kedaulatan bukanlah sesuatu yang selesai ketika kemerdekaan diproklamasikan. Kedaulatan tumbuh setiap hari melalui kejujuran, gotong royong, dan musyawarah,” tegasnya.

Kedaulatan juga diwujudkan melalui keberanian belajar, penghormatan terhadap sesama, serta tanggung jawab menjaga alam sebagai sumber kehidupan.

Menurutnya, kesejahteraan bukanlah sesuatu yang dapat dirumuskan oleh satu orang, kelompok, ataupun lembaga untuk kemudian diberlakukan kepada seluruh bangsa.

Ia menilai kesejahteraan adalah keputusan yang harus terus diperbarui melalui pengalaman hidup masyarakat Indonesia yang begitu beragam.

“Hari ini kita masih menyaksikan petani yang kehilangan lahan garapan, nelayan yang semakin sulit menjaga ruang tangkapnya, dan masyarakat adat yang mempertahankan ruang hidupnya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pelaku UMKM yang berjuang menghadapi perubahan zaman, serta generasi muda yang semakin sempit melihat pilihan hidupnya.

Berbagai persoalan lain mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kesempatan ekonomi dinilai belum dirasakan secara setara.

Gunretno menyebut keadaan ini bukanlah alasan untuk saling menyalahkan. Justru, keadaan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya membangun jalan, gedung, teknologi, maupun pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan juga harus membangun manusia, kebudayaan, dan kesadaran untuk hidup bersama.

“Karena persoalan bangsa bukan hanya terletak pada negara ataupun rakyatnya, melainkan pada kebudayaan yang membentuk cara berpikir dan bertindak keduanya,” terangnya.