Ia mengingatkan, selama budaya menyuap dianggap biasa, musyawarah ditinggalkan, dan alam hanya dipandang komoditas, maka kesejahteraan akan menjauh dari cita-cita bangsa. Hal yang sama berlaku jika keuntungan jangka pendek terus lebih diutamakan daripada keberlanjutan kehidupan.
Oleh sebab itu, Gerak Nusantara memilih kata menuju sebagai jantung geraknya. Gunretno menilai, menuju bukan sekadar arah perjalanan.
Menuju adalah kesediaan untuk terus belajar, bermusyawarah, memperbaiki diri, dan membangun kemampuan mengelola diri, masyarakat, alam, ilmu pengetahuan, serta kebudayaannya sendiri.
“Sebab setiap daerah memiliki sejarah, pengetahuan, tantangan, dan cara hidup yang berbeda,” imbuhnya.
Yang harus dibangun bukanlah keseragaman, melainkan kemampuan setiap masyarakat untuk mengenali dan mengembangkan keragaman kekuatan yang dimilikinya.
Gerak Nusantara berpijak pada tiga landasan kehidupan, yakni keselarasan, kesetaraan, dan kesejahteraan. Atas dasar itulah gerakan ini juga merumuskan salah satu langkah di bidang kehidupan.
“Tentang energi yang merupakan landasan kehidupan. Pembahasan mengenai energi tidak berhenti pada listrik, melainkan mencakup seluruh sumber kehidupan,” tuturnya.
Sumber kehidupan itu meliputi matahari, air, angin, panas bumi, hingga berbagai bentuk energi yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
“Persoalannya bukan semata-mata sumber energi apa yang digunakan, melainkan kebudayaan seperti apa yang tumbuh dari cara manusia mengelolanya,” pungkasnya. (lut/rds)










