Figur  

Pilih Tetap Mengajar Meski Jadi Kepala Sekolah, Ini Perjalanan Inspiratif Mokh Khadiq Pimpin KKMI Jekulo Kudus

TOP LEADER: Mokh Khadiq, Ketua KKMI Jekulo sekaligus Kepala MI NU Mafatihul Ulum. (UMI ZAKIATUN N/JOGLO JATENG)

Di bawah kepemimpinannya, komunikasi antarkepala madrasah diperkuat melalui grup koordinasi sehingga berbagai persoalan dapat segera ditindaklanjuti.

Ia juga rutin mengadakan kegiatan kebersamaan sebagai upaya mempererat hubungan antarkepala madrasah.

Selama memimpin KKMI, ia mengakui tantangan terbesar bukan pada program, melainkan regenerasi kepemimpinan.

Jabatan ketua menuntut waktu, tenaga, dan tanggung jawab yang besar, sementara penghargaan yang diterima tidak sebanding dengan beban pekerjaan.

“Kalau ada kegiatan yang berhasil, ketuanya sering tidak terlihat. Tapi kalau ada masalah, ketua yang pertama disalahkan. Meski begitu, ini adalah bagian dari pengabdian,” ujarnya.

Menjelang masa pensiun yang diperkirakan pada 2029, ia berharap organisasi yang telah dibangunnya dapat diteruskan generasi berikutnya dengan semangat yang sama.

Bagi guru-guru muda, pesannya sederhana namun penuh makna.

“Jangan sampai ketinggalan zaman. Ikuti perkembangan teknologi dan terus belajar. Dunia pendidikan akan terus berubah, sehingga guru juga harus terus berkembang,” pesannya.

Ia juga menitipkan harapan besar bagi seluruh insan madrasah agar selalu mencintai tempat mereka mengabdi.

“Yang paling penting adalah mencintai madrasah. Kalau sudah cinta kepada madrasah, bekerja akan terasa ringan, hubungan dengan siswa, guru, maupun masyarakat juga akan menjadi lebih baik,” pungkasnya.

Lebih dari sekadar pemimpin organisasi, Mokh Khadiq adalah sosok yang menunjukkan bahwa pengabdian dibangun melalui keteladanan, kerja keras, dan kecintaan terhadap dunia pendidikan.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi madrasah swasta, ia terus menjaga semangat agar pendidikan tetap tumbuh dan memberi manfaat bagi generasi mendatang. (iza/rds)