KUDUS, Joglo Jateng – Dugaan perekaman terhadap seorang anak perempuan berusia lima tahun di toilet umum kawasan Masjid Baitul Muttaqin, Desa Pasuruhan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, memicu perhatian publik.
Peristiwa yang terjadi usai jam pulang sekolah itu kini telah mendapat pendampingan dari kepolisian. Sementara itu, kedua belah pihak memiliki versi berbeda mengenai kronologi kejadian.
Ibu korban, Zumaela Ijtihana, warga Desa Sari, Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, menuturkan peristiwa bermula saat menjemput putri sulungnya. Sang anak diketahui bersekolah di TK IT Ardi, wilayah Kecamatan Jati.
Saat perjalanan pulang, anaknya mengaku tidak sempat buang air besar di sekolah karena persediaan air sedang habis. Ia pun memilih menggunakan toilet umum yang berada di sekitar masjid.
Menurutnya, ia sempat mengantar anaknya hingga masuk ke dalam bilik toilet. Setelah itu, ia kembali sebentar ke mobil untuk merapikan parkir serta melihat adiknya yang masih berusia dua tahun.
Saat kembali menuju toilet, ia mengaku melihat seorang pria dalam posisi jongkok. Posisi telepon genggam pria tersebut mengarah ke bawah bilik yang sedang digunakan putrinya.
“Saya melihat sendiri posisi telepon genggam mengarah ke bilik tempat anak saya berada. Saya langsung berteriak karena kaget,” ujarnya.
Ia mengatakan, pria tersebut kemudian berpindah ke bilik lain dan menyampaikan alasan hendak buang air kecil. Namun, penjelasan itu dirasa tidak sesuai dengan apa yang ia lihat.
Dirinya kemudian meminta identitas pelaku untuk dimintai pertanggungjawaban. Lantaran permintaan tersebut tidak dipenuhi, pria itu akhirnya meninggalkan lokasi.
Pada malam harinya, sempat dilakukan mediasi yang difasilitasi pengurus masjid. Namun, Zumaela memilih tidak menyelesaikan persoalan secara damai.
Ia berharap kasus tersebut diproses lebih lanjut agar tidak menimbulkan korban lain. Ia juga mengaku telah dihubungi pihak Polsek Jati maupun Polres Kudus.
Kepolisian menawarkan pendampingan apabila keluarga memutuskan membuat laporan resmi. Hingga kini, keluarga masih berkoordinasi untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.
Akibat kejadian tersebut, korban disebut mengalami ketakutan. Anak itu bahkan meminta agar ibunya tidak lagi terlambat menjemput sekolah karena khawatir bertemu orang yang sama.
Sang ibu mengaku masih mengalami syok setelah menyaksikan langsung peristiwa tersebut.
Sementara itu, marbot Masjid Baitul Muttaqin, Karonu, menyampaikan keterangan berbeda berdasarkan informasi yang diterimanya di lokasi. Menurutnya, pria yang dituduh melakukan perekaman datang ke toilet murni karena hendak buang air kecil.
Pria tersebut juga mengaku tidak mengetahui ada anak kecil di dalam bilik.
Karonu mengatakan, pria tersebut membantah telah merekam korban dan tetap mempertahankan penjelasannya saat mediasi. Ia juga menilai pria tersebut bersedia hadir dalam mediasi untuk memberikan klarifikasi.
Di sisi lain, Karonu mengakui masih terdapat persoalan terkait penunjuk arah toilet di area masjid. Papan penanda toilet laki-laki dan perempuan sebenarnya pernah dipasang.
Namun, sebagian sudah tidak terlihat sehingga memungkinkan pengunjung yang baru datang mengalami kebingungan. (adm/rds)










