Demak  

KKN MIT UIN Walisongo Dorong Digitalisasi Pemasaran Telur Bebek Segar di Desa Kedungori

DEMAK, Joglo Jateng – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 125 melaksanakan program pendampingan digitalisasi promosi bagi peternak bebek di Desa Kedungori, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, pada Kamis (30/7/2026).

Melalui program ini, mahasiswa membantu pembuatan video promosi sekaligus memberikan pendampingan strategi pemasaran digital untuk meningkatkan daya saing produk telur bebek segar.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan KKN Posko 125 yang berfokus pada pengembangan potensi ekonomi lokal.

Mahasiswa melihat sektor peternakan bebek di Desa Kedungori memiliki potensi yang besar, namun pemasarannya masih didominasi oleh pengepul dan pasar tradisional sehingga belum memanfaatkan media digital secara optimal.

Koordinator Desa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 125, Agastya Surya Perdana, menjelaskan bahwa program ini lahir dari hasil pengamatan terhadap potensi usaha masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam aspek promosi.

“Kami melihat produksi telur bebek di sini cukup besar, tetapi promosinya masih sangat terbatas. Karena itu, kami membantu membuat video promosi sekaligus mendampingi peternak memasarkan produknya melalui media digital,” ujarnya.

Menurut Agastya, pemanfaatan media sosial dan platform pemasaran daring diharapkan dapat menjadi bekal jangka panjang bagi para peternak sehingga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pengepul.

“Harapannya, setelah KKN selesai masyarakat sudah terbiasa memanfaatkan media sosial maupun marketplace untuk memasarkan produknya, bukan hanya menunggu pengepul datang,” tambahnya.

Pendampingan dilakukan di kandang bebek milik Suharto, yang akrab disapa Mbah Sampir dan juga menjabat sebagai Kepala Dukuh Kedungori.

Mahasiswa terlibat langsung dalam proses produksi konten, mulai dari pengambilan gambar hingga penyusunan video promosi yang menampilkan aktivitas peternakan dan kualitas telur bebek segar.

Suharto mengelola sekitar 1.600 ekor bebek dengan produksi telur mencapai 800 hingga 1.000 butir setiap hari. Selama ini, hasil produksinya sebagian besar dipasarkan melalui pengepul.