PATI, Joglo Jateng – KINI sekitar 200 lebih keluarga di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, menganut ajaran Mbah Samin. Mereka di antaranya tersebar di Desa Baturejo, Baleadi, Kedumulyo, dan Sukolilo.
Sedulur Sikep ini masih memegang erat ajaran leluhurnya. Termasuk tidak mengikuti sekolah formal karena untuk menghindari potensi kerawanan tentang kelunturan prinsip Mbah Samin.
Wargono adalah salah satu contoh Sedulur Sikep asal Dukuh Galiran, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, yang tidak menempuh sekolah formal. Ia menganggap sekolah formal membuat orang memiliki keinginan.
“Jadi orang sekolah itu punya angan-angan. Kalau pintar ingin apa-apa,” ucap pria paruh baya itu.
Menurutnya, sekolah formal dikhawatirkan akan menghilangkan identitas budaya. Misalnya tidak ingin bertani yang sudah menjadi budaya leluhur sejak dahulu.
“Sekolah ke sana sini habis biaya mahal. Cukup tidak sekolah. Yang penting bisa ke sawah bertani,” ujarnya.
Sedulur Sikep lainnya, Sukilan meyakini belajar tidak harus di sekolah formal. Tetapi juga cukup dengan orang tuanya, seperti belajar tulis-menulis dan berbahasa.
“Tahu sedikit-sedikit dari orang tuanya. Jadi tidak sekolah ke mana-mana,” tutur Kilan.
Meskipun banyak yang tidak sekolah formal, Sedulur Sikep percaya bisa langsung belajar dengan alam. Bahkan, salah satu tokohnya, Gunretno menggagas gerakan tatanan kaweruhan atau Geritanka.
“Geritanka merupakan gerakan pendidikan yang berangkat dari akar kebudayaan Jawa. Khususnya nilai Sedulur Sikep,” terang Gunretno.
Ia menjelaskan, Geritanka berasal dari 2 unsur kata. Yakni Geritan dan Kaweruhan. Geritan adalah alat tradisional yang digunakan untuk anak belajar berjalan atau sebuah simbol awal manusia dalam menapaki kehidupan.
Sedangkan kaweruhan secara harfiah adalah ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hal filsafat, kebudayaan, dan budi pekerti. Istilah ini merujuk pengetahuan mendalam tentang kehidupan batiniah atau kehidupan lokal.
“Dengan demikian Geritanka dimaknai gerakan menata pengetahuan untuk membangun sistem yang membimbing manusia sejak awal agar mampu berjalan secara harfiah dan metaforis, mandiri, dan berlandaskan nilai luhur,” ungkapnya.
Baginya, pendidikan bukan sekadar transmisi ilmu, tetapi proses pendidikan pembentukan manusia yang jujur, adil, tidak serakah, selaras dengan alam, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Oleh karena itu, Geritanka tidak dimaksudkan menggantikan tradisi. Melainkan memperkuat, menata, dan meneruskan kaweruhan lokal agar relevan terhadap perubahan zaman.
“Proses pengajaran sudah dilakukan. Anak-anak juga ikut berproses, ikut di sawah dan aksi misalnya,” pungkasnya. (lut/fat/rds)










