Pati  

Mengenal Ajaran Samin Surosentiko dan Keramahan Sedulur Sikep di Pati

INFRAME: Lukisan Samin Surosentiko. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

PATI, Joglo Jateng – MATAHARI mulai meninggi, jalan beraspal tampak sibuk lagi, dan saat itu tanah kapur putih mulai ditapaki. Menghiasi kanan kiri jalan yang menjadi khas Pegunungan Kendeng.

Pemandangan ini menjadi lanskap menuju Dukuh Bombong, Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Pati. Sebuah desa yang paling banyak ditempati oleh Sedulur Sikep di Bumi Mina Tani ini.

Salah satu tokoh Sedulur Sikep yang bertempat di sana ialah Gunretno. Pria yang akrab disapa Kang Gun itu menjadi sosok cukup dikenal sebagai penerus ajaran Samin Surosentiko alias Raden Kohar dari Blora.

Gunretno tinggal di sebuah rumah joglo sederhana bersama istri dan anaknya. Tak ada yang membedakan dengan nuansa kehidupan di perdesaan pada umumnya, namun yang menjadi berbeda adalah soal bagaimana cara ia menjalani kehidupannya.

Keluarga yang sangat ramah. Secangkir kopi, irisan pepaya yang siap santap, hingga jamuan makan siang dengan lauk ikan bandeng yang dimasak semur disuguhkan di tengah obrolan yang menyenangkan.

Momen ini menjadi cerminan keramahan Sedulur Sikep. Salah satu ajaran Mbah Samin yang terus dipertahankan dan dijalankan oleh pengikutnya hingga sekarang.

Salah satu tokoh Sedulur Sikep, Gunretno. (LUTHFI MAJID/JOGLO JATENG)

Gunretno menuturkan, Mbah Samin mengajarkan tentang prinsip kehidupan. Mulai dari berperilaku, tindakan, hingga ucapan dalam kehidupan sehari-hari.

“Jangan melakukan dengki, panas hati, senang mengomentari, dan meri. Jangan mengambil atau mencuri barang milik orang lain. Terus kalau bilang iya, iya. Kalau tidak, tidak. Itu yang disebut kejujuran atau keluguan,” tuturnya.

Selain itu, Mbah Samin juga mengajarkan tentang rasa persaudaraan. Sedulur Sikep diajarkan merawat, menjaga, atau mempertahankan prinsip, keturunan, dan keyakinan sampai kematian menjemput.

“Mbah Samin itu bilang semua orang itu saudaranya. Kalau mau diakui dulur. Jangan membedakan kulit, keyakinan, tempat tinggal,” katanya.

Namun, menurut ajarannya yang membedakan seseorang adalah tindakan yang serakah. Ia mencontohkan perlawanan Mbah Samin menolak pajak di era kolonial Belanda tahun 1907 hingga berujung pengasingan.

“Maka Mbah Samin sampai diasingkan di Padang, Sumatra Barat itu karena tidak membayar pajak. Karena Belanda punya tindakan yang serakah,” terangnya.

Ajaran Mbah Samin hingga kini diteruskan pengikutnya untuk memiliki kepekaan terhadap masalah yang berkembang, terutama ketidakadilan, dan hidup tidak untuk diri sendiri.

“Ketika Mbah Samin diasingkan, tidak membuat anak cucunya surut. Era itu makin meluas dulur-dulur yang terus tidak membayar pajak,” ucapnya. (lut/fat/rds)