PATI, Joglo Jateng – Nasib buruk kini sedang dirasakan nelayan rajungan di Desa Keboromo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Pasalnya, mereka tengah dihadapkan dengan kondisi sulitnya mencari rajungan.
Ketua Kelompok Nelayan Rajungan Bino Makmur Keboromo, Rokhim mengeluhkan hasil tangkapan rajungan yang menurun drastis. Padahal saat ini harga rajungan tengah tinggi.
“Harganya bagus tapi rajungannya sulit dicari. Pernah ada pasang 1.000 bubu hanya dapat 4 ekor saja,” katanya.
Padahal, Rokhim menyebut di desanya kurang lebih ada 70 sampai 80 nelayan pencari rajungan. Sulitnya mencari rajungan ini pun memukul perekonomian mereka.
Kondisi tersebut sudah berlangsung berbulan-bulan. Bukannya untung dengan hasil tangkapan, para nelayan rajungan ini justru merugi karena tak mendapat rajungan.
“Kalau dihitung kerugian sekitar Rp300 ribu sekali berangkat. Itu buat beli solar dan perbekalan. Karena mencari rajungan biasanya 3 orang yang bawa sekitar 500 bubu,” ungkapnya.
Menurutnya, sulitnya mencari rajungan ini disebabkan beberapa persoalan. Mulai dari perubahan iklim hingga rusaknya ekosistem laut yang membuat rajungan kehilangan habitat.
Belum lagi tidak adanya fish apartment atau rumah ikan dan pencemaran limbah ke laut. Kondisi ini membuat rajungan menghilang dan mati.
“Penyebabnya banyak. Misalnya alat tangkap mini cantrang nelayan dari daerah lain, limbah tapioka, hingga terumbu karang yang rusak,” ungkapnya.
Padahal sebelumnya, kata dia, para pencari rajungan ini memiliki kalender musim. Dari Desember hingga Maret dulunya adalah musim nelayan mencari rajungan.
“Dulu bisa ditentukan. Desember, Januari, Februari, Maret, ada hasil tangkapan. Intinya bisa buat harian. Tapi sekarang tidak bisa diprediksi,” ucapnya.
Sekali berangkat melaut, dulunya nelayan bisa mendapatkan hasil tangkapan sekitar 5 kilogram. Namun kini musimnya tidak bisa diprediksi, termasuk hasil tangkapannya.
“Untuk alat tangkap 200 biji, minimal dapat 5 kilo. Tapi 10 tahun yang lalu,” pungkasnya. (lut/fat/rds)










