SURAKARTA, Joglo Jateng – UPT Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta menggelar Solo Murakabi berkolaborasi dengan komunitas Pen & Postcard 2023 perdana dengan tajuk “Solo dalam Bingkai Kartu Pos”. Tak hanya memamerkan kartu pos, acara itu juga menjadi upaya merawat sejarah Kota Surakarta yang tertulis dalam kartu pos.
Kepala UPT Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Bonita Rintyowati menjelaskan, adanya kegiatan itu seperti membuka lorong waktu dan menjahit ingatan untuk selalu rindu dan dipelajari. Pasalnya, lewat lembar kertas yang beredar dapat memberikan manfaat dan menarik wisatawan hadir ke Kota Solo.
“Ada sekitar seratusan Kartu Pos tentang Solo atau Surakarta kita sajikan dalam pameran dan juga koleksi arsip dari Museum Radya Pustaka” terangnya, Kamis (23/11/23).
Dijelaskan, secara historis, korespondensi mulai marak dengan kehadiran layanan pos di Solo pada pertengahan abad ke-19. Perihal tersebut merupakan efek simultan dari lahirnya kebiasaan baru korespondensi dengan kartu pos di Hindia Belanda pada tahun 1874.
Adanya kartu pos yang diterbitkan oleh Dinas pos pemerintah menjadi era baru dalam komunikasi surat. Pada tahun 1890 an kartu pos bergambar yang dicetak partikelir mulai bermunculan.
Menurutnya, potret kota Solo cukup banyak terpampang dalam visual kartu pos. Beberapa perusahaan di Solo seperti Boekhandel Vogel v.d. Heijde & Co., Toko Gebr. Haye, dan Solosche Snelpersdrukkerij Sie Dhian Hö menerbitkan kartu pos seri Solo.
Tidak ketinggalan dari luar kota diantaranya Tio Tek Hong (Weltevreden) G. C. T. van Dorp (Semarang), dan De Gedeh (Weltevreden) yang menampilkan potret bangsawan Keraton Surakarta. Sehingga, hal itu menarik untuk dicermati.
“Secara tidak langsung kartu pos merekam situasi pada masanya sekaligus perubahan-perubahan pada masa mendatang,” tuturnya.
Lebih lanjut, visualisasi dan informasi tersurat dalam lembaran-lembaran kartu pos dapat digunakan untuk menelusuri dinamika sebuah kota dan kehidupan masyarakat yang luput terdokumentasi, baik secara tertulis maupun visual. Sehingga, kartu pos tidak hanya sebagai media korespondensi semata tetapi juga visualisasi arsip sejarah.
Lanjut Bonita, pihaknya memberi dukungan penuh untuk merespon koleksi arsip dari kartu pos seri Solo melalui gelaran perdana Solo Murakabi. Sementara itu, Pen & Postcard menjadi langkah konkrit dari Komunitas Jejak Kartu Pos untuk mendekatkan kembali kartu pos dan tinta kepada Masyarakat.
Sementara itu, Founder Jejak Kartu Pos Uul Jihadan menambahkan, persamaan tekad untuk menjadikan Kota Surakarta sebagai ruang pariwisata, ruang riset, ruang damai, serta ruang diskusi menjadi kunci kolaborasi dalam gelaran kegiatan ini. Pameran “Solo dalam Bingkai Kartu Pos” tidak sekedar menghadirkan potret lawas Kota Solo, diharapkan publik dapat menginterpretasikan masing-masing untuk membaca segala kemungkinan sejarah.
“Dari kartu pos kita dapat menelisik tentang sejarah kota dan juga keadaan situasional pada waktu itu, dan tercatat penggemar kartu pos di Indonesia dalam wadah komunitas kartu pos tercatat sekitar 9000 anggota dan sekitar 805.000 untuk seluruh Dunia ” ungkapnya. (bam/all)










