Aktif di Dunia Pencak Silat, tak Menghalangi Kewajiban Seorang Ibu

BERSAMA: Gustine Wahyu Kusumawati bersama anaknya saat mengikuti kegiatan Pencak Silat Tapak Suci di Lapangan Denggung Sleman, beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI/JOGLO JOGJA)

MENJADI seorang ibu pastinya akan terus berjuang memberikan kebahagiaan untuk keluarga, terutama anaknya, seperti yang dilakukan Gustine Wahyu Kusumawati. Meskipun aktif dalam organisasi Pencak Silat Tapak Suci, serta mengikuti segala kegiatan seperti menjadi wasit, dan pelatih pencak silat, ia tak pernah lupa untuk meluangkan waktu pada keluarga dengan memberikan perhatian dan mendidik anaknya.

Ibu yang akrab disapa Gustine itu menceritakan, saat duduk di bangku SMP, dirinya diarahkan oleh ayahnya untuk mengikuti bela diri pencak silat. Karena, waktu itu ayahnya juga aktif dan sering latihan pencak silat di Tangerang.

“Setelah tragedi di Tahun 1998 banyak kerusuhan yang terjadi. Sehingga ayah mengajak untuk bergabung di Pencak Silat Tapak Suci, untuk menjaga diri serta mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena wanita tidak hanya dipingit saja, sehingga saat di luar rumah atau merantau bisa membela diri jika terjadi sesuatu,” ungkapnya saat ditemui Joglo Jogja, Rabu (20/12).

Ia menambahkan, saat mengikuti pencak silat Gustine ada fase vakum menjelang ujian akhir SMA sampai kuliah. Lantaran saat kuliah waktu yang digunakan di kampus sangatlah padat untuk tugas dan berbagai kegiatan.

“Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja, saya mulai diajak menjadi asisten pelatih, untuk  membantu saat latihan, karena saat itu saya sudah sabuk kuning melati empat. Saat itu saya tidak kepikiran untuk menjadi pelatih dan tim juri seperti sekarang ini,” jelasnya.

Setelah pindah ke Yogyakarta dan memiliki suami, ia melihat perkembanan pencak silat sangat baik, karena selalu banyak pertandingan setiap minggunya. Hal itu membuat Gustine punya keinginan untuk menjadi juri pencak silat, lalu meminta izin kepada suaminya.

“Setelah saya mendapaatkan izin dari suami, saya meminta izin ke Pimpinan Daerah (Pimda) Tapak Suci Sleman untuk mendapatkan surat rekomendasi agar bisa mengikuti pelatihan wasit juri pencak silat,” tuturnya.

Wanita yang berdomisili di Sleman itu menambahkan, setelah masuk organisasi wasit juri banyak tanggung jawab besar saat memimpin pertandingan. Karena harus berada di sudut netral, melihat serangan atlet saat bertanding apakah masuk atau tidak. Termasuk menilai peserta apakah berniat mencederai lawan atau tidak, itu harus diamati dengan telili. Sehingga ia yakin dalam mengambil keputusan saat menjadi wasit/juri, jadi harus terus belajar untuk bersikap adil dalam gelanggang.

“Saat ini saya sudah menjadi wasit daerah tingkat dua. Wasit/juri silat itu ada beberapa tingkatannya, mulai dari wasit/juri Cabang Sleman, naik ke wasit/juri daerah (DIY) tingkat tiga, dan sekarang wasit/juri daerah tingkat dua,” terangnya.

Gustine menambahkan, selain menjadi wasit/juri ia juga menjadi pelatih di beberapa sekolah yang ada di DIY. “Sampai saat ini saya telah memegang tujuh sekolah, yaitu dua SMP dan lima SD,” tegasnya.

Dengan, kesibukan yang dia jalani di Pencak Silat Tapak Suci, ia bersama suaminya memiliki komitmen bersama. Gustine hanya boleh melatih dari pagi hingga siang hari, untuk sore ke malam harinya supaya suami yang melatih. “Sehingga ada waktu untuk keluarga, dan untuk quality time bersama keluarga,” paparnya

Ibu tiga anak itu menjelaskan, meskipun orangtuanya terjun ke pencak silat, namun anaknya tidak ada yang dipaksa untuk terjun kesana. Namun dirinya diarahkan supaya mendapatkan yang terbaik untuk mengikuti kegiatan yang kelak dilakukan.

“Alhamdililahnya anak saya yang pertama dan kedua mengikuti pencak silat, karena yang ketiga masih umur tiga tahun masih belum diarahkan ke sana. Untuk anak yg pertama sudah mendapatkan prestasi di pencak silat,” imbuhnya.

Untuk hari Ibu ia berharap, untuk ibu rumah tangga dan wanita karir adalah sama-sama bekerja. Karena awal pernikahanya ia merasakan menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja itu juga sangat berat. Sebab hanya di rumah dan ketemunya itu saja.

“Semua ibu itu hebat, baik di rumah maupun menjadi pekerja di luar rumah, karena menginginkan hal terbaik bagi anaknya. Meskipun di tempat kerja bukan menjadi yang terbaik, di organisasi bukan yg terbaik, namun ia akan memaksimalkan hal yang terbaik di mata anaknya, dan keluarga. Dengan cara memberi hak yg harus diberikan kepada anaknya,” pungkasnya. (riz/all)