Gadai Emas di Jateng-DIY Capai 90 Persen

Kepala Departemen Bisnis PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, Tyas Ari Hidayat. (LU'LUIL MAKNUN/JOGLO JATENG).

SEMARANG, Joglo Jateng – Gadai emas masih menjadi produk unggulan PT Pegadaian, terutama di wilayah Jawa Tengah dan DIY.

Transaksi gadai emas mendominasi sekitar 80 hingga 90 persen dibandingkan produk gadai lainnya seperti elektronik.

Kepala Departemen Bisnis PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, Tyas Ari Hidayat, mengatakan perayaan hari besar menjadi momentum pihaknya menerima banyak nasabah.

“Momen-momen ramai untuk gadai itu biasanya menjelang Ramadan. Pengusaha-pengusaha yang ingin usaha dadakan seperti takjil dan lainnya biasanya mulai ramai menggadaikan emas,” katanya, Rabu (18/6).

Puncaknya, kata Tyas, terjadi saat Lebaran. Sebab, para pengusaha besar memanfaatkan produk gadai untuk memenuhi kebutuhan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para karyawannya. Sementara masyarakat umum menebus gadainya.

“Siklusnya muter terus. Pengusaha besar gadai emas untuk bayar THR, karyawan yang menerima THR menebus emasnya untuk kebutuhan Lebaran,” ujarnya.

Selama momen Ramadan dan Lebaran 2024, transaksi gadai di wilayah Jawa Tengah mencapai Rp500 miliar.

Dari angka tersebut, sekitar Rp400 miliar hingga Rp450 miliar berasal dari produk gadai emas.

Tak hanya momen Ramadan dan Lebaran, pada pertengahan tahun seperti Juni–Juli, saat tahun ajaran baru dimulai, banyak masyarakat yang menggadaikan emas guna membayar kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Di sisi lain, karena Jateng dikenal sebagai daerah pertanian, tak sedikit para petani juga menggadaikan barang untuk modal membeli bibit di musim tanam.

“Karena Jateng–DIY ini juga terkenal dengan pertanian, awal musim tanam juga menjadi momen ramai gadai. Misalnya di Brebes, saat musim tanam bawang di bulan Juli dan September–Oktober, itu biasanya masyarakat mulai menggadaikan emas untuk modal tanam,” imbuhnya.