Kokurikuler SMK Negeri 1 Kudus Angkat Isu Lingkungan & Kuliner Jadul

MAKANAN JADUL: Siswa-siswi SMK 1 Kudus melaksanakan kegiatan kokurikuler makanan jadul di sekolah pada Kamis, (20/11). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – SMK Negeri 1 Kudus kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk kesadaran lingkungan bagi para siswa melalui kegiatan Kokurikuler yang kini diatur berdasarkan Permendikdas Nomor 13 Tahun 2025. Kegiatan ini mengadopsi prinsip serupa dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), namun dengan ruang lingkup yang lebih luas.

Wakil Kepala SMK Negeri 1 Kudus Bidang Kurikulum, Ahmad Faesol menjelaskan, tahun ini tema besar kegiatan adalah Gaya Hidup Berkelanjutan yang diterapkan berbeda di setiap jenjang kelas. Untuk kelas 11, sekolah mengangkat konsep pasar tradisional dengan nuansa jadul. Mulai dari sistem pembelian hingga produk yang dijual.

“Kami mengadopsi hal-hal lama seperti cara pembelian dan produk-produk jadul. Konsepnya itu dikemas agar siswa merasakan langsung suasana pasar tradisional tempo dulu,” terangnya Kamis, (20/11).

Salah satu hal unik yang disorot adalah penggunaan koin khusus pasar. Pembeli menukar uang menjadi koin terlebih dahulu. Setelah itu, transaksi dilakukan memakai koin di setiap lapak.

“Satu koin bernilai seribu rupiah,” jelasnya.

LAHAN KOMPOS: Siswa-siswi kelas 10 sedang membuat lubang untuk membuatan kompos dari sampah organik pada Selasa, (11/11) lalu. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

Beragam makanan tradisional disajikan dalam kegiatan ini. Mulai dari horok-horok hingga jajanan kukus.

“Kami ingin mengangkat makanan tradisional. Banyak generasi muda yang tidak tahu lagi apa itu makanan jadul. Dengan seperti ini, mereka bisa mengenal, mencicipi, dan memahami kembali cita rasa tradisional,” tuturnya.

Berbeda dengan kelas 11, siswa kelas 10 difokuskan pada pengelolaan sampah. Khususnya praktik pemilahan.

“Kelas 10 kami arahkan pada pemilahan sampah. Mereka belajar membedakan sampah organik dan anorganik,” ujarnya.

Untuk sampah organik, siswa diarahkan mengolahnya menjadi kompos. Sedangkan plastik dan sebagainya kami kumpulkan untuk pengelolaan lebih lanjut. Program ini tidak hanya sekadar teori, tetapi juga pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

“Para siswa kami biasakan membuang sampah sesuai tempat yang sudah disediakan,” tambahnya. (uma/fat)