Kisah Slamet, Sopir Bajaj Maxride Semarang: Tetap Mengaspal demi Keluarga di Tengah Polemik Izin

Seorang pengemudi Bajaj Maxride sedang bersiap mengantar penumpang di salah satu sudut jalan Kota Semarang
LAYANI PENUMPANG: Bajaj Maxride saat beroperasi di jalanan Kota Semarang. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Di tengah polemik larangan operasional Bajaj Maxride oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, pekerjaan sebagai sopir bajaj tetap menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian warga. Salah satunya Slamet Gondrong (45), warga Bangetayu, Semarang, yang sehari-hari menggantungkan hidup dari menarik bajaj berbasis aplikasi di jalanan kota.

Slamet mengaku sudah terbiasa mengemudikan berbagai jenis kendaraan sebelum menjadi sopir bajaj. Adaptasi pun tak menjadi kendala berarti meski kendaraan roda tiga memiliki karakter berbeda. Menurutnya, pengalaman sebelumnya membuat proses penyesuaian berjalan cepat tanpa perlu pelatihan panjang.

“Sudah biasa bawa kendaraan, jadi menyesuaikan bajaj itu gampang. Tinggal lihat, oh ini seperti ini, sudah langsung jalan,” ujar Slamet saat ditemui di sela-sela mangkal, Rabu (17/12/25).

Dalam sehari, Slamet bisa melayani belasan penumpang, terutama pada malam hari. Rata-rata ia mencatat sekitar 15 kali tarikan, dengan tujuan yang bervariasi mengikuti permintaan aplikasi. Penumpangnya pun datang dari beragam kalangan, mulai dari remaja hingga orang tua.

“Kalau malam kemarin sekitar 15 tarikan. Ke mana saja tergantung aplikasi, kadang nganter remaja, kadang orang tua yang ngantar anaknya,” katanya.

Meski belum memiliki bajaj sendiri dan masih menggunakan sistem sewa, Slamet menilai penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia mengakui, memiliki kendaraan sendiri tentu lebih menguntungkan, namun untuk saat ini ia memilih bertahap sambil mengumpulkan modal.