Kudus  

Imbas Longsor Jalur Colo: Bus Wisata Dilarang Melintas, Pendapatan Ojek Colo Terjun Bebas

Kondisi pangkalan ojek wisata Colo Kudus yang sepi akibat longsor jalur barat.
‎Salah satu ojek Colo menunggu penumpang yang akan datang ke kawasan wisata religi Makam Sunan Muria pada Jumat (16/1/2026). (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Peristiwa longsor jalur Colo, tepatnya di jembatan akses barat menuju Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, berdampak signifikan pada aktivitas warga. Suasana di pangkalan ojek yang biasanya ramai hiruk-pikuk peziarah kini tampak lengang akibat akses utama yang terputus sejak 9 Januari lalu.

Kerusakan infrastruktur ini memukul telak sektor ekonomi rakyat, khususnya para pengemudi ojek wisata Colo. Meskipun akses menuju Makam Sunan Muria masih bisa ditempuh lewat jalur timur, penurunan jumlah wisatawan tak terhindarkan.

Pendapatan Ojek Anjlok Drastis

Anggota Paguyuban Ojek Colo, Abdurrahman mengungkapkan, putusnya jembatan membuat arus pengunjung dari arah barat Kudus terhenti total. Padahal, rute tersebut merupakan pintu masuk utama bagi sebagian besar rombongan peziarah.

“Dampaknya terasa sekali. Biasanya jalur barat cukup ramai, sekarang sama sekali tidak bisa dilewati. Otomatis wisatawan berkurang dan pendapatan kami ikut turun,” ujarnya.

Abdurrahman menjelaskan kondisi lalu lintas terkini menuju kawasan wisata religi tersebut:

  • Aman Dilalui: Sepeda motor, mobil pribadi kecil, dan kendaraan jenis Elf (via jalur timur/Pati).
  • Dilarang Melintas: Bus pariwisata berukuran besar karena kondisi jalan alternatif dinilai belum aman.

“Motor masih lancar, mobil kecil dan elf masih bisa. Tapi bus besar belum memungkinkan. Ini sangat berpengaruh karena bus biasanya membawa rombongan besar,” imbuhnya.

Hanya 10 Persen Anggota Beroperasi

Dampak ekonomi ini terlihat nyata dari jumlah armada yang beroperasi. Dari total sekitar 260 anggota Paguyuban Ojek Colo, sebagian besar memilih untuk tidak menarik penumpang. Kombinasi cuaca ekstrem dan sepinya orderan menjadi alasan utama.

“Banyak teman-teman yang akhirnya libur. Kalau tidak ada penumpang, mau bagaimana lagi. Kondisinya memang berat,” keluh Abdurrahman.

Bahkan, ia memperkirakan jumlah pengemudi yang nekat mangkal saat ini tidak mencapai 10 persen dari total anggota. Rata-rata kendaraan masuk pun hanya berkisar dua hingga tiga mobil per hari, jauh dari kondisi normal terutama saat akhir pekan.

Terkait penanganan, pemerintah provinsi bersama Balai Jalan Nasional telah meninjau lokasi dan merencanakan penguatan jalur lama sebagai solusi darurat. Target perbaikan diperkirakan memakan waktu sekitar satu bulan.

Para pengemudi ojek berharap perbaikan dapat dipercepat agar roda ekonomi kembali berputar. “Kawasan Colo sebenarnya masih aman. Yang kami harapkan, akses segera normal dan wisatawan kembali datang,” pungkasnya. (adm/rds)