Gandeng OISCA Jepang, SDN Karangsari 4 Demak Terapkan Pendidikan Lingkungan Lewat CFP

Siswa SDN Karangsari 4 Demak sedang melakukan kegiatan penanaman pohon di halaman sekolah bersama guru.
Siswa SDN Karangsari 4 Demak berfoto bersama setelah melakukan kegiatan penanaman pohon di halaman sekolah bersama guru. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo jateng – Komitmen kuat dalam menanamkan karakter cinta alam ditunjukkan oleh SDN Karangsari 4, Kabupaten Demak. Sekolah yang berlokasi di Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah ini menggandeng lembaga internasional OISCA Jepang untuk menerapkan pendidikan lingkungan melalui Children’s Forest Program (CFP).

Program ini bukan sekadar teori di dalam kelas, melainkan aksi nyata yang melibatkan siswa secara langsung. Mulai dari menanam pohon, mengelola sampah, hingga memproduksi pupuk organik secara mandiri.

Kepala SDN Karangsari 4, Sri Murniati, S.Pd.SD., M.Pd. menjelaskan, kerja sama dengan OISCA Jepang merupakan langkah strategis sekolah. Tujuannya adalah membentuk generasi yang tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga memiliki kepekaan tinggi terhadap kelestarian alam.

“Kami ingin anak-anak memiliki karakter kuat dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui Program CFP bersama OISCA Jepang, kami membangun kebiasaan baik yang bisa mereka terapkan sepanjang hidup,” ungkapnya, belum lama ini.

Hijaukan Sekolah dengan Tangan Sendiri

Melalui program ini, seluruh elemen sekolah mulai dari siswa, guru, hingga orang tua dilibatkan aktif. Salah satu kegiatan utamanya adalah penanaman berbagai jenis pohon di area sekolah. Hasilnya, lingkungan sekolah kini bertransformasi menjadi lebih hijau dan asri.

Sri Murniati menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremonial belaka. Siswa diberikan tanggung jawab penuh untuk merawat tanaman mereka masing-masing.

“Anak-anak bertanggung jawab menyiram, merawat, dan memastikan tanaman tumbuh dengan baik. Dari sini mereka belajar tentang tanggung jawab dan cinta lingkungan secara nyata,” imbuhnya.

Bekali Skill Pengolahan Limbah

Tak hanya penghijauan, siswa juga dibekali keterampilan teknis pengelolaan limbah. Mereka diajarkan cara membuat pupuk cair dan kompos dari sampah organik seperti daun kering dan sisa makanan.

Keterampilan ini memberikan pemahaman mendalam tentang siklus alam. Siswa menjadi paham pentingnya menjaga kesuburan tanah secara alami tanpa ketergantungan pada bahan kimia berbahaya.

Selain itu, kesadaran memilah sampah organik dan anorganik juga ditanamkan sejak dini. Budaya ini diharapkan tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi juga terbawa hingga ke lingkungan rumah dan masyarakat.

“Kini hasilnya mulai terlihat nyata. Lingkungan sekolah jadi hijau, bersih, dan nyaman. Lebih dari itu, kesadaran akan kebersihan dan kepedulian alam telah tertanam kuat pada seluruh warga sekolah,” tandasnya. (uma/fat/rds)