Pemkot Gelar Gerakan Pangan Murah Semarang di 177 Kelurahan, Tekan Lonjakan Harga

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti meninjau warga yang sedang berbelanja kebutuhan pokok di Bazar Ramadan Balai Kota.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, meramaikan kegiatan Bazar Ramadan dan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak 177 Kelurahan se-Kota Semarang di halaman Balai Kota Semarang, Rabu (11/3/2026). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang resmi menggelar Gerakan Pangan Murah Semarang secara serentak di 177 kelurahan guna menekan lonjakan harga bahan pokok menjelang Idulfitri. Program yang turut dipusatkan di halaman Balai Kota Semarang ini menjadi angin segar bagi warga yang mulai tercekik oleh meroketnya harga komoditas penting di pasaran.

Bazar Ramadan yang berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) dan Bulog ini memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan sembako dengan harga yang jauh di bawah standar pasar. Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas melonjaknya harga sembako di Semarang, seperti minyak goreng dan cabai yang kian memberatkan rumah tangga.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menjelaskan bahwa strategi ini dirancang khusus untuk menjaga daya beli warga sekaligus mengendalikan inflasi. Keterbukaan informasi ke publik juga dinilai krusial agar masyarakat memahami kondisi harga riil dan langkah cepat pemerintah.

“Inflasi Jawa Tengah yang sebelumnya 2,72 hari ini sudah 4,2. Akibat perang, akibat emas, akibat tingkat kebutuhan masyarakat meningkat. Ini menjadi tradisi setiap lebaran,” ujar Agustina di sela-sela kegiatan, Rabu (11/3/2026).

Tebus Murah Cabai Cuma Rp 1.000

Di sejumlah pasar tradisional, harga cabai Semarang khususnya jenis rawit merah saat ini sudah menembus angka Rp 80 ribu per kilogram. Sementara itu, harga cabai keriting bertengger di kisaran Rp 35 ribu per kilogram sejak awal tahun.

Kondisi tersebut membuat warga antusias menyerbu stan tebus murah di area Balai Kota. Salah satu warga, Ana, mengaku sangat terbantu karena cukup membayar sekitar Rp 1.000 menggunakan sistem pembayaran digital untuk memborong 200 gram cabai.

“Lumayan harga cabai kan mahal, di sini cuma Rp1.000 sudah bisa bawa pulang cabai,” ujarnya semringah.

Selain cabai, komoditas incaran utama warga adalah gula pasir dan minyak goreng. Purwanti, warga Semarang lainnya, memilih memborong kebutuhan dapur di Bazar Ramadan karena selisih harganya dinilai sangat menguntungkan.

“Ke pasar murah beli gula pasir dan minyak goreng karena harganya agak miring. Kalau di pasar gulanya Rp18.000 per kilogram, kalau di sini Rp17.000 per kilogram. Minyak juga lebih murah di sini Rp31.000 per liter, di pasar bisa Rp34.000 per liter,” ungkapnya.

BI Pantau Pemicu Inflasi Jelang Lebaran

Fenomena meroketnya harga bumbu dapur dan kebutuhan pokok ini terus mendapat pemantauan khusus dari otoritas perbankan. Kepala Perwakilan BI Jawa Tengah, M Noor Nugroho, menegaskan bahwa komoditas pangan sering kali menjadi aktor utama penyumbang inflasi saat bulan puasa.

Karena itu, pihaknya terus mendukung upaya kolaboratif bersama pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga.

“Cabai rawit merah, bawang merah, bawang putih, beras, telur ayam, dan daging ayam ras biasanya menjadi pemicu inflasi naik menjelang Idulfitri,” kata Noor memungkasi. (hfh/gih/rds)