JEPARA, Joglo Jateng – Umat Buddha di Kabupaten Jepara mengusulkan agar perayaan Hari Raya Waisak dapat diselenggarakan di fasilitas milik pemerintah, yakni Pendopo Kabupaten. Rencana perayaan Waisak di Pendopo Jepara ini langsung mendapat lampu hijau dari bupati setempat sebagai wujud nyata kesetaraan dan toleransi beragama.
Aspirasi tersebut disampaikan dalam forum ramah tamah bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara di Vihara Jaya Manggala, Simo, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Rabu (15/4/2026) petang.
Tokoh Buddha Jepara Suroso menyampaikan, izin penggunaan fasilitas daerah akan menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah terhadap seluruh kelompok masyarakat tanpa pandang bulu.
“Kami berharap nanti perayaan Waisak bisa dilaksanakan di Pendopo. Ini adalah bentuk kepedulian bupati kepada kami umat Buddha. Tidak ada perbedaan, meskipun kami minoritas, kami tetap diperlakukan sama seperti yang mayoritas,” ujarnya.
Statistik Umat Buddha di Jepara
Suroso turut mengungkapkan statistik konkret terkait penganut agama Buddha di wilayah tersebut. Saat ini tercatat ada sekitar 45 vihara yang menjadi pusat ibadah bagi umat Buddha Jepara, dengan total jumlah penganut mencapai 5.000 orang.
Tingginya populasi tersebut mencerminkan harmoni kehidupan masyarakat yang rukun dan aman, khususnya di wilayah Kecamatan Donorojo.
Dalam kesempatan yang sama, pihaknya memohon dukungan pemerintah daerah terhadap kegiatan keagamaan anak-anak, seperti ngaji dan sekolah Minggu, agar pembinaan keimanan berjalan optimal.
“Kami juga mengajukan permohonan bantuan dana untuk revitalisasi vihara yang saat ini masih dalam proses,” tambahnya.
Ruang Terbuka untuk Semua Agama
Merespons aspirasi warganya, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyambut antusias usulan tersebut. Ia mempersilakan kelompok minoritas tersebut untuk menyemarakkan peringatan keagamaan mereka di pusat pemerintahan daerah.
“Silakan merayakan Hari Waisak semeriah mungkin dan sebaik-baiknya. Kami memberikan ruang keagamaan bagi seluruh agama di Pendopo Kabupaten,” tegasnya.
Witiarso menegaskan bahwa Jepara merupakan wilayah yang sangat menjunjung tinggi inklusivitas. Menurutnya, keberagaman ras maupun agama bukanlah sebuah sekat, melainkan pilar penyatu masyarakat.
“Jepara sangat terbuka terhadap perbedaan. Perbedaan itu adalah karunia yang luar biasa. Di dalamnya ada banyak kelebihan, dan tugas kita adalah merawatnya dengan baik,” ungkapnya. (oka/gih/rds)










