Jepara  

Nabung dari Hasil Jualan Bubur Keliling, Pasangan Lansia di Jepara Ini Wujudkan Mimpi ke Tanah Suci

KETERANGAN: Karmi saat menjajakan bubur jagungnya berkeliling di Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Selasa (28/4/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Jalan setapak di kawasan Rukun Tetangga (RT) 3 Rukun Warga (RW) 3, Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, menjadi saksi bisu perjuangan seorang nenek bernama Karmi (68). Melangkah pelan dengan menggendong wakul layaknya penjual jamu, siapa sangka rutinitasnya itu mengantarkannya menunaikan rukun Islam kelima.

Lewat kegigihannya, impian mulia naik haji dari jualan bubur akhirnya terwujud. Setiap sore, Karmi setia berkeliling kampung untuk menjajakan dagangan sederhananya.

“Jualannya bubur jagung, ada juga sate usus, botok petai cina, dan pindang,” terang Karmi saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/4/2026).

Rutinitas itu dimulainya sejak pukul 16.00 WIB hingga dagangannya ludes menjelang Magrib. Setiap hari, Karmi menyusuri gang-gang desa dengan berjalan kaki. Ia mampu menjual sekitar 40 hingga 60 bungkus bubur jagung dalam sehari.

Harga Murah, Disiplin Menabung

Hasil penjualannya memang tampak tak seberapa jika dilihat sekilas. Apalagi, harga makanan yang ia jajakan sangat murah meriah.

Satu bungkus bubur jagung hanya dibanderol Rp 2 ribu. Sementara sate usus dihargai Rp 1 ribu per tusuk, botok petai cina Rp 2 ribu, dan botok pindang Rp 5 ribu per bungkus.

Namun, berkat dukungan penuh sang suami, Kusrin (73), pasangan lansia ini sangat disiplin menyisihkan uang antara Rp 50 ribu hingga Rp 120 ribu setiap harinya.

“Sedikit-sedikit dikumpulkan. Nanti kalau sudah banyak, diserahkan ke anak untuk ditabung di bank,” ujar Karmi, calon jemaah haji Jepara tersebut.

Tabungan receh itu tak dibiarkan menganggur. Uang yang terkumpul lantas dibelikan hewan ternak seperti ayam, kambing, hingga sapi.

Karena Karmi dan Kusrin sudah lama memendam niat untuk berhaji, keduanya bertekad membesarkan dua ekor sapi dari hasil tabungan jualan bubur tersebut.

Sapi-sapi gemuk itu kemudian dijual, dan uangnya digunakan untuk mendaftar ibadah haji. Setelah dirasa cukup, pasangan ini pun mendaftar secara mandiri sekitar tahun 2019 silam.

“Waktu itu batin, kapan ya saya bisa berangkat haji kaya baturku (seperti temanku),” kenangnya.