Kudus  

Inovasi Buket Digital, Mahasiswa UMK Kudus Raih Pendanaan Nasional P2MW 2026

KREATIF: Tim mahasiswa UMK kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah berhasil lolos pendanaan P2MW 2026. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Tim mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah mereka berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.

Melalui usaha rintisan MAJIQ Florist, tim tersebut meraih pendanaan pada kategori Jasa, Pariwisata, dan Perdagangan tahap Bertumbuh. Konsep bisnis mereka memadukan teknologi digital dengan sentuhan budaya lokal.

Tim MAJIQ Florist diketuai oleh Asrofi Andrian, mahasiswa Program Studi Manajemen semester enam. Ia didampingi Martin Sofiana, Fera Febriyanti, Mohammad Ihsan, serta Aliya Aszava dari Program Studi Sistem Informasi.

“Kolaborasi lintas disiplin tersebut melahirkan inovasi yang menawarkan pengalaman baru dalam layanan pemberian hadiah atau personal gifting,” katanya.

Asrofi menjelaskan, ide bisnis tersebut muncul dari meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap hadiah yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai emosional. Atas dasar itu, MAJIQ Florist menghadirkan berbagai produk yang dapat dipersonalisasi sehingga mampu memberikan kesan lebih mendalam bagi penerimanya.

Salah satu inovasi yang menjadi pembeda adalah fitur Digital Emotional Experience. Setiap kartu ucapan dapat dilengkapi QR Code yang terhubung dengan konten digital berupa foto, video, rekaman suara, maupun pesan khusus dari pengirim. Penerima hadiah cukup memindai kode tersebut untuk menikmati pesan yang telah disiapkan.

“Dengan konsep ini, hadiah tidak hanya menjadi simbol perhatian, tetapi juga mampu menyimpan kenangan yang dapat diakses kembali kapan saja,” ujar Asrofi.

Selain mengedepankan teknologi digital, MAJIQ Florist juga membawa unsur budaya Indonesia ke dalam produknya. Tim memanfaatkan kain batik sebagai bagian dari dekorasi buket dan berbagai produk gifting.

“Bahkan, sisa potongan kain batik diolah kembali menjadi frame pop-up tiga dimensi maupun aksesori dekoratif sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” bebernya.