Jepara  

Jualan Live dari Dalam Pasar Tradisional, Gadis Jepara Ini Sukses Kembangkan Kios Keluarganya

SEMANGAT: Intan Reza Melani, penjual di Pasar Bangsri, saat jualan live di tokonya di Pasar Bangsri, Jumat (10/7/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Saat banyak pedagang pasar rakyat mengeluhkan sepinya pembeli akibat gempuran toko modern dan belanja online, Intan Reza Melani justru memilih melawan arus. Perempuan 27 tahun asal Bangsri itu menggabungkan jual beli langsung di pasar dengan promosi melalui media sosial hingga live streaming untuk mempertahankan usaha pakaian milik keluarganya.

Usaha yang kini dikelola Intan bukanlah bisnis yang baru dirintis. Toko pakaian miliknya sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, diawali oleh sang nenek, kemudian diteruskan ibunya sejak 1996. Dari usaha itulah kebutuhan keluarga tercukupi, termasuk membiayai pendidikan Intan dan saudara-saudaranya.

Namun, perubahan pola belanja masyarakat membuat kondisi pasar tradisional tak lagi seramai dulu. Masyarakat mulai beralih ke pusat perbelanjaan modern maupun platform belanja online yang dianggap lebih praktis.

“Dulu pembelinya ramai. Lama-lama mulai berkurang. Ibu tetap bertahan meski pendapatannya tidak menentu,” kata Intan pada Joglo Jateng, Jumat (10/7/2026).

Melihat kondisi itu, Intan tak ingin usaha keluarganya ikut tenggelam. Saat berusia 21 tahun, ia mulai turun langsung membantu menjaga toko sekaligus mencari cara agar dagangan tetap dikenal masyarakat.

Ia pun memanfaatkan media sosial sebagai etalase baru. Foto-foto produk diunggah secara rutin melalui WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Baginya, yang terpenting saat itu bukan mengejar keuntungan, melainkan membuat toko di dalam pasar tradisional kembali dikenal calon pembeli.

“Yang saya pikirkan waktu itu bagaimana caranya dagangan ibu dikenal dulu. Kalau orang sudah tahu, nanti pembeli akan datang sendiri,” terangnya.

Strategi tersebut perlahan membuahkan hasil. Pesanan mulai berdatangan melalui WhatsApp maupun pesan langsung di media sosial. Tak sedikit pembeli yang meminta barang diantar atau melakukan transaksi dengan sistem cash on delivery (COD).

“Bahkan ada yang minta COD di depan Pasar Bangsri karena tidak mau masuk ke pasar. Tidak masalah, yang penting kebutuhan pembeli terpenuhi dan dagangan tetap laku,” tuturnya.

Seiring meningkatnya permintaan, Intan mulai mengembangkan sistem penjualan menjadi semi digital. Penjualan langsung di kios tetap berjalan, sementara pemasaran online terus diperkuat melalui marketplace dan media sosial.

Salah satu strategi yang kini rutin dilakukan adalah live streaming. Hampir setiap hari ia mempromosikan koleksi pakaian secara langsung dari kios di Pasar Bangsri maupun dari rumah, mengikuti tren belanja digital yang banyak diminati masyarakat.

“Sudah sekitar lima tahun saya menjalankan jualan offline dan online bersamaan. Kadang live di toko pasar, kadang di rumah kalau stok barang ada di sana,” katanya.

Menurut Intan, pasar rakyat masih memiliki peluang untuk bertahan selama pedagang mampu mengikuti perubahan zaman. Media sosial, kata dia, bukan untuk menggantikan pasar tradisional, melainkan menjadi sarana memperluas jangkauan pembeli.

Upaya tersebut kini membuahkan hasil. Usaha pakaian keluarganya berkembang menjadi sembilan kios di Pasar Bangsri dengan dukungan beberapa karyawan.

Bagi Intan, pasar tradisional tetap bisa bersaing, asalkan pedagang mau beradaptasi dengan cara berjualan yang mengikuti perkembangan teknologi. “Yang penting dagangan laku, jadi apa pun itu dimanfaatkan,” tandasnya. (oka/gih/rds)